Home > Berita Liga Indonesia > Daripada Pasang VAR, PSSI Ditantang Bongkar Mafia Wasit Lebih Dahulu

Daripada Pasang VAR, PSSI Ditantang Bongkar Mafia Wasit Lebih Dahulu

Jakarta – Save Our Soccer (SOS) menyoroti rencana PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) untuk mulai menerapkan teknologi Video Assistant Referee (VAR) di kompetisi Liga 1 dan Liga 2 musim depan.

Menurut lembaga yang peduli dengan tata kelola sepak bola Indonesia ini, penerapan teknologi VAR di Indonesia tidak mudah karena membutuhkan persiapan dan sumber daya wasit yang memahami teknologi VAR dengan baik.

“VAR tidak mudah,” kata Koordinator SOS, Akmal Marhali, Sabtu (30/10/2021).

“Penerapan VAR tidak seperti membeli televisi di toko elektronik yang langsung bisa digunakan semaunya,” lanjutnya.

Pemikiran untuk menggunakan VAR ini muncul setelah banyaknya keluhan terkait keputusan salah yang dilakukan wasit di lapangan.

Keluhan dan tuntutan ini kemudian direspon oleh PT LIB selaku operator kompetisi sepak bola di Indonesia untuk menggunakan teknologi VAR pada kompetisi musim mendatang.

Meski demikian Akmal menjelaskan, paling tidak butuh waktu minimal 1,5 tahun untuk bisa siap menerapkan VAR, karena ada 18 hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Salah satunya adalah ketersediaan operator yang dilatih oleh lebih dulu oleh FIFA. Menurut Akmal, setidaknya ada tiga operator yang harus selalu stand by mengawasi. Dua di antara tiga operator tersebut haruslah wasit yang sudah terlatih, termasuk bisa menggunakan alat komunikasi yang terhubung dengan VAR.

“Jadi, dalam satu laga minimal butuh 4 wasit. Ada cadangan 1 untuk asisten wasit. Dengan VAR, . . . . . . tambah di belakang dua wasit. Jadi harus ada 7 wasit per laga yang sudah dilatih FIFA selama 6-8 bulan,” jelas Akmal.

Selain itu, FIFA akan melakukan asistensi selama setahun pertama, termasuk memberikan pemahaman terkait jumlah minimum wasit yang berlisensi mengoperasikan VAR.

Untuk fisilitas lainnya, di setiap stadion juga paling sedikit memerlukan 20 kamera pengawas yang terhubung dengan VAR.

“Stadion di Indonesia memasang delapan kamera saja sulit. Jadi, VAR selain soal anggaran, infrastruktur, juga soal kompetensi,” ucap Akmal.

“Bisa jadi bila digunakan setiap saat terjadi masalah di lapangan, wasit jadi bulan-bulanan,” lanjut Akmal.

Karena itu, Akmal lebih menyarankan agar PSSI membenahi terlebih dahulu kualitas wasit sepak bola di Indonesia, termasuk mafia wasit yang kerap memainkan hasil pertandingan.

“Pilihan paling rasional saat ini adalah pembenahan wasit. Jangan lagi ada wasit titipan, wasit arisan, dan wasit bagi hasil,” tegas Akmal.

“PSSI dan LIB harus membongkar mafia wasit dulu sebelum bicara VAR. Berani?” tutupnya.

x

Check Also

Dianggap Kalah WO Lawan Persis Solo, PSG Pati Ajukan Banding

Jakarta – PSG Pati mengajukan banding atas putusan Komisi Displin PSSI yang memutuskan Java Army ...