Home > Berita Liga Indonesia > Bali United > Saham Bali United Meroket Karena Fokus Pada Dua Hal Ini

Saham Bali United Meroket Karena Fokus Pada Dua Hal Ini

Jakarta – Nilai Saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) yang menaungi Bali United dan beberapa anak perusahaan yang lain tiba-tiba meroket dalam beberapa bulan terahir ini.

Sahan BOLA yang tidak dianggap dalam satu tahun terakhir, berubah menjadi emiten banyak diperbincangkan penyuka saham.

Saham BOLA tumbuh sebesar 576,83 persen secara year to date. Pada awal pandemi COVID-19, saham BOLA sempat menyentuh harga Rp 164.

Harga ini diketahui lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai saham BOLA pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2019, yakni Rp 175.

BEI sendiri sampai harus melakukan dua kali suspense pada BOLA di tahun ini karena tren kenaikan yang tidak wajar.

Yang pertama sekitar sepekan lalu sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), sedangkan pada Selasa (10/8/2021), BEI kembali menggembok BOLA.

Selain saham BOLA, BEI juga melakukan suspensi terhadap beberapa saham lain seperti PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE) dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) karena terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada penutupan perdagangan Senin (9/10/2021) lalu, saham BOLA sempat meroket 16,23 persen dan menyentuh harga Rp 1.110 per lembar saham. Total frekuensi perdagangan saham 11.898 kali dengan volume perdagangan 697.876 dengan nilai transaksi sebesar Rp 73,8 miliar.

Hingga saat ini, Direktur Utama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk Yabes Tanuri masih enggan untuk berbicara soal kenaikan harga saham BOLA yang sangat signifikan.

Dari keterbukaan informasi di BEI, dalam RUPSLB pada 4 Agustus telah diputuskan bahwa 8,4 persen dana IPO digunakan sebagai belanja modal atau capital expenditure (capex).

Belanja modal tersebut digunakan untuk pengembangan fasilitas dan peralatan stadion, pengembangan . . . Gabung . . . fasilitas akademi, ekspansi Bali United Store, hingga pengembangangan aplikasi dan program customer relationship management (CRM).

Sedangkan Bali United lebih fokus ke arah pengembangan konten digital dan e-Sport. Dengan perincian 97,4 persen dari total alokasi yang berjumlah 45,4 persen, digunakan untuk anak perusahaan BOLA yang fokus pada segmen hiburan dan konten digital.

Anak perusahaan tersebut adalah PT Kreasi Karya Bangsa dan alokasi dananya digunakan untuk pengembangan studio, kantor live streaming, rumah produksi, pembelian kamera, dan sebagainya.

Sementara itu, 1,3 persennya akan dialokasikan untuk PT IOG Indonesia yang menaungi tim e-Sport Bali United yang bersama Island of Gods (IOG).

Untuk alokasi lainnya, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk akan menggunakan dana segar untuk pembangunan training ground di Kawasan Pantai Purnama, Gianyar.

Untuk proses pembangunan ini, baru satu lapangan yang hampir selesai, dari rencana awal sebanyak empat lapangan yang akan dibangun di lahan seluas kurang lebih tujuh hektar.

Pieter Tanuri sendiri yang juga menjabat sebagai Anggota Exco PSSI baru membeli tersebut membeli 285 juta lembar saham BOLA pada 27 Juli lalu dengan harga Rp 350 per lembar saham, atau setara dengan Rp 99,75 miliar.

Secara total, Pieter Tanuri memiliki 2.208.953.320 lembar saham dan menjadikannya sebagai pemilik saham terbanyak (36,82 persen).

x

Check Also

Pelatih Bali United Sambut Baik Rencana PSSI Gelar Liga 1 20 Agustus

Denpasar – PSSI bakal tetap menggelar kompetisi Liga 1 2021/22 pada 20 Agustus mendatang meski ...