Home > Berita Euro > Gagasan Sepakbola Dari Utara Dalam Laga Inggris vs Denmark

Gagasan Sepakbola Dari Utara Dalam Laga Inggris vs Denmark

Denmark yang mencoba bangkit pada laga kedua melawan Belgia, tetapi kembali menelan kekalahan 2-1. Pengorbanan Eriksen menjadi inspirasi. Keajaiban tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperjuangkan. Pada laga penentuan, Denmark menggilas Rusia 4-1 dan lolos sebagai runner-up grup setelah “dibantu” Belgia yang mengalahkan Finlandia. Setelahnya, kisah Denmark pada turnamen ini layak dijadikan bab tersendiri dalam buku-buku motivasi.

Peran penting Kasper Hjulmand selaku pelatih timnas Denmark sudah bukan menjadi rahasia lagi. Dia datang menggantikan peran Age Hareide yang kontraknya habis pertengahan tahun lalu. Seandainya Euro 2020 tidak ditunda setahun, Hareide-lah yang mendampingi Denmark. Namun, kedatangan Hjulmand memberikan kesegaran baru. Denmark tampil lebih agresif, tidak lagi berwajah defensif seperti semasa kepelatihan Hareide.

Hingga tutup tahun 2020, Denmark hanya kalah dua kali dari delapan pertandingan — enam di antaranya adalah pertandingan Nations League. Dua kekalahan itu didapat dari Belgia. Lawan Denmark di semi-final nanti, Inggris, bukanlah lawan yang asing. Bersama Hjulmand Denmark belum terkalahkan dalam dua pertemuan menghadapi Inggris. Malahan, Oktober lalu di Wembley, Denmark sukses menang 1-0 berkat gol tunggal penalti Eriksen.

Total, Hjulmand telah 17 kali memimpin Denmark melalui pertandingan internasional dengan rekor 11 kemenangan, dua kali imbang, dan empat kali kalah. Rekor rata-rata 2,06 poin per laga Hjulmand lebih baik daripada catatan Hareide, 1,88. Begitu juga dengan mencetak rata-rata 2,35 gol per pertandingan berbanding 2 gol.

Itu baru pelatih. Jangan lupakan andil para pemain. Mereka menciptakan persaingan internal yang sehat.

Sejak Euro 2020 dimulai hingga menjelang babak semi-final, Rabu 7 Juli, secara konstan Denmark terus menerus menjadi buah pembicaraan penggemar sepakbola di seantero dunia. Tidak ada mata yang tidak sembab menyaksikan laga Denmark versus Finlandia di Kopenhagen, tiga pekan lalu. Christian Eriksen ambruk menjelang akhir babak pertama akibat henti jantung. Kondisinya sempat dikhawatirkan, tapi syukurlah stabil. Ada banyak perdebatan tentang bagaimana cara menyelesaikan pertandingan Denmark-Finlandia, tapi laga terus dilanjutkan yang berakhir dengan kekalahan tuan rumah, 1-0.

Kepemimpinan Simon Kjaer mendapat pujian sehingga namanya kini menjadi salah satu kandidat pemain terbaik turnamen. Belum lagi Joakim Maehle yang membuat orang tidak hanya jatuh cinta kepada Denmark, tetapi juga serta-merta mesti membisikkan Atalanta dalam satu napas kekaguman mereka.

Pierre-Emile Hojbjerg tampil lebih agresif, memimpin di depan, berbeda perannya seperti ketika membela Tottenham Hotspur. Begitu juga dengan Thomas Delaney yang menyumbangkan gol pembuka Denmark di perempat-final.

Youssuf Poulsen mengemas dua gol di fase grup, Kasper Dolberg pun tidak mau kalah melakukannya di fase gugur — tiga gol! Mikkel Damsgaard mencuri perhatian sebagai salah satu bintang muda yang melejit di turnamen. Namanya kini dikaitkan dengan transfer ke klub-klub top Eropa.

Ada dua nama lain yang juga memiliki peran, FC Midtjylland dan FC Nordsjaelland.

Nama mereka memang susah dilafalkan lidah orang Indonesia. Supaya lebih gampang mengingat, kita asosiasikan saja mereka dengan lokasi masing-masing. Midtjylland terletak di kawasan tengah Denmark, sedangkan Nordsjaelland di kawasan utara pulau Zealand. (Ya, buka peta Anda, Denmark adalah negara kepulauan)

Midtjylland relatif lebih dikenal karena bermain di Liga Champions musim lalu. Pada penampilan perdana di kompetisi antarklub paling bergengsi itu, mereka satu grup bersama Liverpool, Atalanta, dan Ajax Amsterdam. Sayangnya, Midtjylland tidak bicara banyak dan terhenti di fase grup.

Pada 2014 lalu, Midtjylland diakuisisi oleh Matthew Benham. Mereka kemudian mempraktekkan . . . Gabung . . . sains dan statistik ke dalam sepakbola. Bahasa populernya, ilmu “moneyball”. Para penggemar Liga Primer Inggris akan mendengar Benham lebih sering karena klub yang juga dimilikinya, Brentford, baru saja promosi. Kedua klub ini mempraktekkan hal yang sama, seperti melatih set piece secara khusus.

Sekarang, lihat lagi cuplikan gol pertama Denmark ke gawang Republik Ceko. Delaney mencetak gol memanfaatkan umpan tendangan penjuru. Itu bukan gol kebetulan, melainkan hasil latihan khusus para pemain Denmark.

Kapten Finlandia yang pernah membela Midtjylland, Tim Sparv, mengungkap peran pelatih set piece Mads Buttgereit dalam kicauan Twitter pribadinya, “Hari ini latihan rutin tendangan penjuru berhasil membawa mereka ke semi-final Euro.”

“Terinspirasi dari NFL, kami [Midtjylland] menciptakan buku taktik kami sendiri. Setiap area di wilayah pertahanan lawan memiliki taktik yang berbeda-beda. Kami menggelar latihan set piece yang spesifik, dalam kelompok besar maupun kecil. Satu hari kami melatih lemparan ke dalam dengan lima pemain, hari berikutnya tendangan bebas dengan seluruh skuad.”

Tidak heran kini banyak sejumlah klub top yang menyewa khusus pelatih set piece, seperti Liverpool yang memiliki pelatih khusus lemparan ke dalam.

Sejak 2014, Midtjylland sukses tiga kali menjuarai Liga Super Denmark. Mereka dikenal selayaknya tim tradisional Denmark yang kokoh, menerapkan tekanan tinggi, serta efektif dalam bola-bola mati. Empat penggawa Denmark di Euro 2020 pernah membela tim utama atau akademi klub berseragam merah-hitam ini, di antara lain adalah Kjaer dan Martin Braithwaite.

Sementara, citra sepakbola Nordsjaelland lekat dengan sosok sang pelatih timnas, Hjulmand, yang mengidolakan Pep Guardiola dan Johan Cruyff. Di jajaran kepelatihan, Hjumland dikelilingi para alumni Nordsjaelland, seperti asisten Morten Wieghorst dan manajer tim Christian Norkjaer.

Lalu, sebanyak lima anggota skuad Euro 2020 pernah berseragam Nordsjaelland, di antaranya adalah Damsgaard, bek kanan Jens Stryger Larsen, dan sayap muda Andreas Skov Olsen. Nordsjaelland tidak segan memberi menit bermain untuk pemain-pemain muda, karena menempatkan diri seperti sebuah universitas tempat para calon bintang menuntut ilmu sebelum akhirnya pergi melanglangbuana ke klub-klub top Eropa.

Mereka mungkin hanya mampu sekali menjuarai Liga Super Denmark dalam sepuluh tahun terakhir, tapi kehadiran mereka bersama Midtjylland dianggap sukses menggoyahkan hegemoni dua klub asal ibukota, Brondby dan FC Kopenhagen.

Tingginya perhatian terhadap pengembangan pemain usia dini itu membawa mereka menjalin kerja sama dengan akademi asal Ghana, Right to Dream. Kemitraan itu tidak hanya memberikan jaminan bahwa klub tidak akan kehabisan stok pemain, tetapi juga sumber penghasilan.

Musim lalu, mereka sukses menjual Mohammed Kudus (saat itu 19 tahun) ke Ajax dengan transfer sebesar €9 juta. Musim ini, Kamaldeen Sulemana (19 tahun) menjadi incaran banyak klub, mulai dari Ajax, Rennes, Liverpool, hingga Manchester United. Rory Smith dari New York Times menulis, “Nordsjaelland dan Midtjylland adalah dua sisi koin. Mereka tim yang relatif masih muda, berasal dari provinsi, dan berkembang selama sepuluh tahun terakhir… Mereka bangkit dengan memanfaatkan dua gagasan yang sangat berbeda.”

Tanamkan sebuah gagasan dan gagasan itu akan melenting. Sangat menular. Sekecil apa pun, gagasan itu akan terus bertumbuh.

Di stadion keramat Wembley, gagasan Denmark akan menguji ketahanannya.

x

Check Also

Terkuak Team Talk Roberto Mancini Yang Menjadikan Italia Juara Euro 2020

Beredar video talk team yang dilakukan Roberto Mancini jelang pertandingan final Euro 2020. Mancini tidak ...