Home > Berita Liga Inggris > Arsenal Semestinya Tak Lagi Jadikan Wasit Sebagai Kambing Hitam

Arsenal Semestinya Tak Lagi Jadikan Wasit Sebagai Kambing Hitam

Daripada merengek dan menyalahkan wasit atas keterpurukannya di dua pertandingan terakhir, ada baiknya Arsenal dan Mikel Arteta berbenah diri untuk kembali ke jalur positif. Arsenal kembali harus menelan kekalahan untuk kedua kalinya dalam tempo kurang dari empat hari.

Setelah tumbang dari Wolverhampton Wanderers dengan skor 1-2, sekarang The Gunners takluk di tangan Aston Villa dengan skor 0-1. Kekalahan ini tak ayal mengembalikan Arsenal ke bumi setelah sebelumnya berada di tren positif di Liga Inggris 2020/21 dengan tidak terkalahkan di tujuh pertandingan terakhirnya.

Baca Juga: Tak Hanya Kalah, Arsenal Juga Kehilangan Thomas Partey

Dua kekalahan terakhir ini pun membawa Arsenal tertahan di tempat ke-10 klasemen. Kalau dihitung, The Gunners bisa saja terdampar lebih dalam ke papan bawah. Dua kekalahan terakhir dari Wolves dan Aston Villa pun sejatinya disesalkan Arsenal.

Karena, dalam dua kekalahan ini, The Gunners merasa dirugikan oleh keputusan wasit. Pada saat tumbang dari Wolves, Arsenal harus mendapat dua kartu merah sehingga keunggulan di babak pertama bisa disamakan dan dibalikkan pada akhir babak pertama dan di awal babak kedua.

Dua kartu merah ini didapat oleh David Luiz dan Bernd Leno. Untuk Luiz, kartu merah yang didapatkannya terbilang aneh karena tidak ada kontak jelas. Wajar kalau saat itu pendukung dan pemain Arsenal merasa dirugikan.

Hal ini terlihat juga dari unggahan Hector Bellerin lewat akun Twitternya. Unggahan foto di media sosial pribadinya itu seakan mengatakan kalau wasit yang memimpin pertandingan bersekongkol dengan Wolves agar Arsenal kalah.

Lalu di pertandingan melawan Aston Villa, Arsenal kembali merasa dirugikan karena wasit tidak memberi kartu merah dan penalti kepada Meriam London. Kekesalan kepada wasit bermula saat Bukayo Saka dijegal oleh Ezri Konsa saat hendak berlari dari tengah lapangan.

Pelanggaran itu membuahkan kartu kuning yang lantas diprotes pemain Arsenal dan pendukungnya di media sosial. Pasalnya, Saka dalam keadaan unggul dan bisa saja berlari sendirian dari tengah lapangan ke arah gawang Aston Villa. Tak ayal, para pemain Arsenal di lapangan memprotes dan meminta kartu merah.

Lalu yang kekesalan kedua lahir saat Alexandre Lacazette merasa dijatuhkan di kotak penalti oleh mantan rekannya yang merupakan kiper Aston Villa, Emiliano Martinez. Lacazette merasa dirugikan karena ia merasa ditarik kausnya oleh Martinez saat hendak menyambut umpan silang. Tapi, wasit merasa itu bukan pelanggaran yang berbuah penalti.

Lacazette pun lantas mencak-mencak di Twitter dengan membalas cuitan salah satu akun yang menayangkan ulang pelanggaran terhadapnya itu dengan cuitan bertuliskan ‘Another One’ yang merujuk . . . Gabung . . . pada Arsenal kembali dirugikan wasit sekali lagi.

Sejatinya, memprotes kebijakan wasit adalah hal lumrah. Toh bukan lagi rahasia kalau wasit Liga Inggris sering melakukan blunder dalam membuat keputusan walau sekarang sudah ada teknologi bernama VAR. Tapi, ada baiknya Arsenal dan Arteta mulai berbenah ketimbang merengek dan menyalahkan wasit atas dua kekalahan yang dideritanya di pertandingan terakhir.

Di pertandingan melawan Wolves, sebelum adanya kartu merah yang diberikan kepada David Luiz, Arsenal unggul dari segi permainan. Bahkan di babak pertama, total tembakan yang dilepaskan The Gunners mencapai enam kali.

Tapi dari enam tembakan itu, tiga di antaranya mengarah ke gawang dan membuahkan satu gol. Secara xG (Expected Goals), di babak pertama Arsenal kalah jauh dari Wolves dengan nilai 0,62 berbanding 1,67. Dengan kata lain, Arsenal sebenarnya tidak membuat banyak peluang berbuah gol ketimbang Wolves (mendapat penalti dengan xG senilai 0.76) di babak pertama saat kedua kesebelasan bermain dengan 11 vs 11.

Pun di pertandingan melawan Aston Villa. Arsenal sejatinya tampil tidak buruk-buruk amat, begitu juga dengan tuan rumah yang memang spartan sejak menit pertama. Secara keseluruhan selama 90 menit, xG kedua tim berbeda tipis di mana Aston Villa membuat peluang berbuah gol dengan nilai 1,30 dan Arsenal dengan jumlah 0.93.

Dari sana saja, kedua tim terlihat seimbang. Tapi, Arsenal gagal memanfaatkan setiap peluang matang yang didapat baik dari Lacazette, Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe dan Martin Odegaard. Anehnya, Lacazette malah memprotes keputusan wasit yang tidak memberinya penalti ketimbang berbenah diri agar dirinya kembali menjadi predator di muka gawang.

Wajar kalau Emiliano Martinez membalas pesan tersirat Lacazette di Twitter dengan menyebut kalau penyerang Prancis itu murni mendorongnya hingga terjatuh.

Berkaca dari fakta itu, PR besar kembali menanti Mikel Arteta. Wajar bila memprotes keputusan wasit Liga Inggris yang memang kerap ‘ngaco’. Tapi bukankah lebih baik kalau ia membenahi permainan Arsenal untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya dan berhenti ‘Playing Victim’?

x

Check Also

chelsea vs manchester city

Bukannya Beli Pemain, Chelsea Mungkin Akan Ditinggal Pemainnya

London – Pada bursa transfer musim panas ini, Chelsea masih belum mendatangkan pemain baru dan ...