Home > Berita Liga Indonesia > Stadion Kebanggaan Depok Kini Tak Lagi Terlihat Kumuh

Stadion Kebanggaan Depok Kini Tak Lagi Terlihat Kumuh

Kota Depok. Apa yang pertama kali terlintas dalam benak Anda saat mendengar nama area administratif berjulukan Kota Belimbing ini? Margonda? Universitas Indonesia? Mal-mal baru? Atau Mesjid Kubah Emas? Sebagian besar orang barangkali hanya akan menyebutkan hal-hal di atas tanpa menyadari ada satu ikon ‘baru’ yang kelak bisa dijadikan sebagai kebanggaan Kota Depok yang berkaitan dengan olahraga.

Apa lagi kalau bukan Stadion Merpati. Bagi para penikmat sepak bola nasional, keberadaan Stadion Merpati sudah lazim diketahui sebagai markas klub tradisional Persikad Depok. Lokasinya berada di Jalan Gelatik Raya No.43, Pancoran Mas, yang akses menuju ke sana cenderung menyerupai jalan kompleks perumahan warga.

Persikad dulu pernah akrab di telinga publik era 2000-an karena berkompetisi di Divisi I dan hampir masuk kasta tertinggi (Divisi Utama) pada 2007 andai PSSI tidak mengubah format kompetisi menjadi Liga Super Indonesia (LSI). Tapi, gambaran yang muncul benak publik saat pertama kali mendengar soal Stadion Merpati adalah kumuh dan tidak terawat.

Bisa dimaklumi mengingat bekas kandang Persikad ini memang seringkali disorot karena tampilan-tampilan negatif khas fasilitas klub semenjana di Indonesia. Rumput lapangan amburadul, tribun rusak di beberapa titik, dan fasilitas-fasilitas lain yang tergolong jauh dari kesan memadai seperti ruang ganti pemain plus toilet dll. adalah kumpulan aib-aib Stadion Merpati di masa lalu.

Lain dulu lain sekarang. Stadion Merpati Depok belakangan sudah bertransformasi menjadi jauh lebih layak sebagai fasilitas sepak bola tingkat kota berkat renovasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Tampilan baru Stadion Merpati Depok bahkan cukup ampuh untuk menghapus memori-memori negatif yang dulu sangat identik dengan bangunan ini.

Penikmat sepak bola tentu tidak akan lagi melihatnya sebagai fasilitas kumuh dan tidak terawat. Setiap sudut tribun Stadion Merpati sekarang sudah menyatu sehingga mengelilingi bangunan layaknya stadion sepak bola pada umumnya. Tidak seperti masa lampau yang diketahui terpisah antara tribun barat, timur, dan utara (tribun selatan dulu belum ada).

Rumput lapangan juga tampak terawat dan subur berwarna hijau. Bukan seperti dahulu kala yang identik dengan kuning kecoklat-coklatan karena kering dan tidak rata di setiap sisinya, bahkan ‘gundul’ di bagian depan gawang alias area kekuasaan kiper. Sistem drainase juga sudah tersedia di pinggir lapangan plus trek jogging keliling bagian dalam Stadion Merpati yang tentu berfungsi untuk mendukung pemanasan dan peregangan para pemain sebelum bertanding memperkuat timnya di pertandingan kompetitif.

Kabarnya, proyek renovasi yang dimulai pada pengujung 2017 serta rampung sekaligus diresmikan oleh Pemkot Depok per Maret tahun lalu ini menghabiskan biaya sebesar Rp20,2 miliar dari kas APBD setempat. Stadion Merpati kini berkapasitas sekitar 13.000 penonton. Walaupun sudah jauh lebih rapi, Pemkot Depok ternyata masih menyimpan rencana rekonstruksi terkait bangunan-bangunan di sekitar area stadion, tepatnya kantor KONI Kota Depok dan Askot PSSI Depok yang letaknya persis di sebelah Stadion Merpati.

“Memang betul Stadion Merpati lebih rapi dan enak dipandang pasca-renovasi, tapi menurut kami masih belum sempurna ya,” kata Kasi Pembinaan Olahraga Rekreasi dan Fungsional Disporyata Kota Depok, Rayi Muhammad Radiansyah.

“Bagian utama stadion mungkin sudah beres, walau ada sedikit kesalahan dalam hal penempatan drainase (terlalu dekat dengan lapangan), tapi pihak Pemkot Depok berencana menata kembali area sekitar Stadion Merpati,” cetusnya.

Ada pun penataan itu berkaitan dengan upaya menonjolkan Stadion Merpati sebagai simbol utama sepak bola Depok supaya tidak terlalu menempel atau dihimpit oleh kawasan kantor KONI Depok dan Askot PSSI Depok.

“Nanti rencananya semua bangunan di sana akan dibongkar, lalu dibangun satu gedung bertingkat agar lebih efisien dan area Stadion Merpati bisa kelihatan lebih luas. Kemungkinan pengerjaan baru akan dimulai tahun depan (2022),” kata Rayi.

“Selama proses pengerjaan, KONI dan Askot PSSI Depok bisa pindah sementara dan menggunakan salah satu ruangan di bawah tribun Stadion Merpati. Total ada 24 ruangan, masing-masing 12 di tribun barat dan 12 di tribun timur. Semacam mes lah,” katanya.

Masuk Kategori Standar Liga 2?

Kalau melihat wajah baru Stadion Merpati, besar kemungkinan fasilitas sepak bola Depok ini masuk kategori standar Liga 2, bukan lagi sekadar Liga 3, sesuai kriteria yang diatur oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku pihak verifikator sekaligus operator kompetisi. Kriteria-kriteria stadion standar Liga 2 antara lain memenuhi kualitas rumput ukuran lapangan yang memadai, memiliki drainase, technical area, team bench, ruang ganti pemain, wasit, panpel, (kapasitas, toilet, shower, kursi-locker, pendingin, meja massage dll.).

Ada lagi fasilitas medis, doping control room dll, fasilitas media (entrance, press conference room, media center, media tribune, mixed zone, photografer area dll.), fasilitas penonton (area parkir, pintu masuk, jalur tribun, VVIP area, evakuasi, sanitasi dll.). Kriteria yang terakhir untuk menentukan suatu stadion masuk kategori standar Liga 2 adalah memiliki evacuation plan, security plan, stadium code of conduct, plus PA system.

Kalau ada sistem penerangan (lampu), akan dicek dari kekuatan lux dan sebarannya ke lapangan, apakah horizontal atau vertikal, tapi hanya sebatas formalitas saja karena regulasi tidak menyebutkan fasilitas ini sebagai syarat seperti halnya Liga 1. Seluruh kriteria itu kemungkinan besar bisa atau bahkan sudah dipenuhi oleh Stadion Merpati.

Tinggal tim PT LIB melakukan inspeksi menyeluruh untuk menentukan apakah stadion kebanggaan warga Depok ini memang masuk standar Liga 2.

“Kalau belum dicek langsung ya kami belum bisa menyimpulkan apa-apa. Saya belum tahu apakah PSSI sudah inspeksi ke sana pasca-renovasi. Jadi memang harus dilakukan verifikasi terlebih dahulu,” kata Direktur Kompetisi PT LIB, Asep Saputra.

Wajah baru Stadion Merpati tentu menjadi kabar bagus buat klub-klub resmi Depok mengingat beberapa di antaranya punya ambisi mengejar prestasi tingkat nasional. Mereka tidak perlu pusing memikirkan home base bila suatu saat nanti sukses promosi ke Liga 2. Berhubung Persikad Depok selaku klub tradisional sudah ‘tinggal nama’ karena dijual ke Bogor (kini menjadi Sulut United), Kota Belimbing kini diwakili empat klub.

Keempat klub itu adalah Depok United FC, Persipu FC, Persikad 1999, dan Depok City FC. Seluruhnya terdaftar sebagai anggota Askot PSSI setempat dan bernaung di Liga 3. Di sisi lain, Stadion Merpati juga terbuka untuk klub-klub luar Depok, terutama yang tidak memiliki stadion layak pakai, kalau memang kelak dinyatakan masuk kategori standar Liga 2. Tapi, persyaratannya tentu akan lebih ketat.

“Stadion Merpati tidak menutup diri untuk pihak luar Depok yang ingin menggunakan dalam rangka mengikuti kompetisi resmi tingkat nasional (Liga 2), asalkan situasi sudah normal kembali dan pandemi virus corona mereda,” kata Rayi Muhammad Radiansyah.

Begitulah sepenggal informasi tentang Stadion Merpati. Simbol ‘baru’ sepak bola Depok yang kemungkinan masuk kategori standar Liga 2, tapi masih belum sempurna.

 

 

x

Check Also

Simon McMenemy Gabung Bhayangkara FC Lagi Tapi Bukan Sebagai Pelatih

Simon McMenemy sudah datang bukan untuk menjadi pelatih, melainkan direktur teknik untuk Bhayangkara Solo FC. ...