Home > Berita Liga Indonesia > Publik Sepakbola Mulai Lelah Menanti Kabar Baik Kompetisi Indonesia

Publik Sepakbola Mulai Lelah Menanti Kabar Baik Kompetisi Indonesia

Terkadang hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang direncanakan. Rasa lelah itu sering menghinggapi diri saat merasa keadaan berjalan flat saja, tidak ada perkembangan dan kemajuan sama sekali. Hal inilah yang saya rasakan semenjak Liga 1 2020 ditunda lagi pada Oktober lalu setelah terhenti untuk pertama kali pada Maret.
Bak dibawa terbang tinggi lalu dijatuhkan. Liga 1 yang sudah dipersiapkan matang-matang oleh seluruh pelaku sepak bola belum bisa bergulir karena terkendala izin dari Kepolisian.

Ya, terdengar kocak, izin yang seharusnya menjadi catatan khusus PSSI dan PT LIB (Liga Indonesia Baru) sedari awal justru terabaikan. PSSI dan PT LIB tetap bersikukuh akan melanjutkan kompetisi pada bulan berikutnya atau November 2020. Sayangnya, usaha iut tidak membuahkan hasil sampai kompetisi diputuskan ditunda lagi sampai Februari 2021.
Sekarang, jelang lebih kurang tiga pekan mendekati jadwal yang telah ditentukan, lagi-lagi PSSI dan PT LIB tidak kunjung memberikan harapan pasti.

Federasi bahkan sampai melambaikan tangan dan menyerahkan segala keputusan kepada Kepolisian. Upaya mencari titik terang kompetisi setelah menyambut pergantian tahun pun membuat rasa pesimisme saya semakin tidak terbendung.

“Terkait liga, PSSI bersama PT LIB terus mengusahakan agar kompetisi dapat berjalan lagi secepatnya.”

“Koordinasi dan silaturahmi dengan berbagai pihak terkait terus dilakukan serta surat resmi kepada pihak Kepolisian sudah dilayangkan sebanyak tiga kali.”

“Sekarang semua berpulang kepada Kepolisian. Apapun keputusan Kepolisian, PSSI patuh dan tunduk,” kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, seperti dikutip dari akun Instagram, Kamis (7/1/2021).

Belum lagi ada kabar mengejutkan dari Madura United dan Persipura Jayapura, yang mantap memilih membubarkan timnya akibat masalah finansial. Kedua klub terpaksa menyerah dengan keadaan sembari menanti kabar lebih lanjut soal masa depan kompetisi. Keyakinan kompetisi belum dapat terlaksana dalam waktu terdekat semakin menguat dengan melihat persiapan klub-klub Liga 1.
Biasanya, lima sampai enam pekan sebelum kompetisi dimulai, klub-klub sudah memanggil para pemain untuk ditempa fisiknya agar siap bertempur.

Tapi, sampai saat ini baru Tira Persikabo yang kelihatan siap berkompetisi karena tetap mengadakan latihan walau tidak diikuti semua pemain. Klub berjulukan Laskar Padjadjaran itu menjadi satu-satunya klub yang tetap melanjutkan agenda tim. Padahal, untuk mempersiapkan fisik pemain usai lama tidak bermain bukanlah perkara yang mudah.
Hal ini diutarakan langsung oleh pelatih kawakan Persib Bandung, Robert Rene Alberts.

“Dari sudut pandang keilmuan dan teknis, kita tidak mungkin bisa berharap pertandingan berkualitas setelah selama satu tahun tidak menjalani pertandingan,” kata pelatih Persib, Robert Rene Alberts, belum lama ini.

“Setelah tak bertanding selama 10 bulan, secara bersamaan itu adalah hal yang berbahaya bagi pemain karena mereka tidak bisa mempersiapkan dirinya secara maksimal,” katanya.

Persiapan lain yang semakin membuat Liga 1 jauh dari kata ‘bergulir’ adalah komposisi para pemain asing. Sejak Liga 1 mandek pada Maret lalu, satu per satu legiun asing memutuskan angkat kaki dari Indonesia. Nama terakhir yang resmi mundur adalah Mahmoud Eid. Pemain asal Palestina itu meninggalkan Persebaya dan bergabung ke klub Liga Qatar.
Mengingat belum turunnya kepastian kompetisi, besar kemungkinan akan ada pemain asing lainnya yang akan menyusul Mahmoud Eid.

Sejauh ini hanya ada empat klub yang masih mengatakan kelengkapan empat pemain asingnya, yaitu Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIS Semarang, dan PSS Sleman. Padahal, pada awal musim lalu, klub-klub paling disibukkan dengan mendatangkan pemain asing yang berkualitas bagus. Setiap klub bahkan sampai mempunyai daftar pemain asing yang akan direkrut sampai wajib melalui proses seleksi lebih dulu.
Sekarang, situasi berbanding terbalik. Klub-klub yang ditinggal pergi pemain asingnya justru pergerakannya sangat pasif. Mayoritas klub seakan sepakat tidak mau mengambil risiko besar untuk merogoh keuangan demi kompetisi yang belum terjamin kepastiannya.

Sepak Bola Akan Hidup

Di satu sisi, ada percikan api semangat yang membuat saya masih percaya ada secercah harapan sepak bola Indonesia akan bangkit. Saya termotivasi berkat tekad dan optimisme berbagai elemen di industri sepak bola, baik pemain, pelatih, manajemen, maupun suporter. Para pemain yang sudah menganggur berbulan-bulan memiliki cara tersendiri untuk menyiasati ketiadaan kompetisi.
Umumnya para pemain tetap rutin menjaga kondisi fisiknya dengan menjalani latihan mandiri maupun berolahraga lainnya.

Seperti yang dilakukan pemain senior Persita Tangerang, Hamka Hamzah. Hamka yang tidak mau terlarut dalam ketidakjelasan nasib kompetisi memilih menyibukkan diri melakukan banyak hal baru. Selain bermain bersama komunitas sepak bola, dirinya sudah menjajal kegiatan maupun profesi . . . . . . lain seperti konten kreator, ngetrail, hingga merambah dunia sinetron. Ada juga pemain yang menghabiskan waktu luangnya dengan membuka usaha untuk menambal penghasilan gaji yang terpotong atau sudah tidak lagi dibayarkan klub karena kontraknya habis.
Dengan begitu, bila bicara mental, para pemain liga dapat dibilang cukup kuat dalam menghadapi kesulitan kondisi seperti saat ini.

Walau begitu, tidak dipungkiri mereka tetap menaruh harapan besar agar profesi murni sebagai pesepak bola profesional bisa kembali dilakukan, bekerja layaknya pekerjaan lainnya. Terbaru, para pemain secara kompak berbondong-bondong mengampanyekan tagar #AyoMainLagi di media sosial masing-masing. Mereka semua serempak menyuarakan kerinduan merumput di atas lapangan seperti dulu. Salah satu inisiator gerakan itu adalah pemain Persija Jakarta asal Italia, Marco Motta.

“Membayangkan negara paling fanatik dengan sepak bola, tapi tidak memiliki kompetisi sepak bola.” Kemudian ada tambahan #AyoMainLagi.

“Sepak bola bukan hanya olahraga, tapi gairah yang lahir di dalam. Kemungkinan bagi semua orang yang menyukainya untuk mengalami emosi yang indah di saat yang rumit untuk seluruh dunia,” tulis Marco Motta dalam keterangan fotonya.

Setelah itu diikuti pemain lainnya seperti Marc Klok, Otavio Dutra, Marco Simic, Flavio Beck Junior, Achmad Jufriyanto, I Made Wirawan, dan masih banyak lainnya. Manajemen klub turut berperan penting dalam menciptakan kreasi dan inovasi demi keberlangsungan tim di masa paceklik ini. Menurut saya, jalan yang diambil Madura United dan Persipura Jayapura sejatinya kurang tepat. Di tengah krisis finansial ini, manajemen klub pun seharusnya jangan mau kalah semangat dari para pemain.
Saya pribadi mengapresiasi langkah kreatif manajemen klub Bali United dan PSS Sleman dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Bali United tetap menyibukkan diri mencari dana segar dengan menwarkan sponsorship.

Selain itu, manajemen klub berjulukan Serdadu Tridatu itu tetap aktif mengupayakan mempromosikan sponsor-sponsor sebelumnya. Dengan begitu, sponsor tidak akan dirugikan, karena Bali United rutin melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan. Menariknya, tim besutan Stefano Cugurra belum lama ini malah dihadiahi lima unit mobil dari salah satu sponsor yang nantinya akan digunakan sebagai pendukung operasional klub. Serupa dengan Bali United, manajemen PSS Sleman juga berusaha agar denyut nadi klub tetap berdetak walau kompetisi terhenti.
Langkah pertama yang dilakukan ialah menyinergikan kemampuan di berbagai divisi PT Putra Sleman Sembada (PSS).

Dari situ lahirlah program terbaru bertajuk ‘Kancane PSS’ yang bertujuan untuk merangkul suporter, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), food and beverage (F&B), serta industri kreatif di Sleman dan sekitarnya. Sebelumnya, manajemen sudah menyediakan wadah lebih dulu dengan mendirikan Omah PSS. Selain menjadi kantor klub, Omah PSS nantinya akan dimaksimalkan menjadi toko merchandise, kafe, serta penggerak UMKM dan industri kreatif. Saat ini audisi Kancane PSS sudah berhasil menjaring sebanyak 45 peserta.
Peserta yang dinyatakan lolos berkesempatan menjadi mitra PSS, bekerja sama dan mendapatkan bantuan dalam hal pemasaran maupun pengembangan usahanya.

Sebelum program Kancane PSS, manajemen sudah banyak mengadakan berbagai kegiatan seperti pameran seni sampai kompetisi e-Sport PES Tournament. Langkah Bali United dan PSS Sleman patut dicontoh dan ditiru manajemen klub lain yang ingin menjaga kelangsungan hidup timnya. Suporter dan penggemar sepak bola Tanah Air juga memainkan peran besar dalam kelancaran kompetisi. Dukungan mereka bisa membantu membangkitkan gelaran kompetisi, baik secara moril maupun materiil. Secara moril, suporter dapat menjaga psikis pemain maupun klub dengan ucapan positif.
Sedangkan sebagai bentuk dukungan materiil, suporter bisa tinggal di rumah menonton pertandingan lewat televisi apabila kompetisi dilanjutkan.

Terlepas dari rasa lelah menunggu kepastian kompetisi Liga 1 dan Liga 2 di Indonesia, alangkah baiknya kalau setiap lapis stakeholder saling bahu-membahu, minimal mengurangi rantai penyebaran COVID-19. Dengan menurunnya grafik angka kasus, bukan tidak mungkin pintu hati pihak berwenang dalam hal ini Kepolisian mau terbuka untuk menurunkan izin mengadakan pertandingan. Selain itu, patut dinantikan rencana apa lagi yang akan dipersiapkan PSSI dan PT LIB ke depannya. Semoga tidak ada lagi keputusan sembrono.

x

Check Also

RANS Cilegon FC dan Persis Solo Amankan Tiket Semifinal Liga 2 2021

Jakarta – Dua tim Liga 2 2021 sudah memastikan diri lolos ke babak semifinal. Mereka ...