Home > Berita Liga Indonesia > PSIS Semarang > PSIS Mulai Merambah Dunia Sepakbola Virtual

PSIS Mulai Merambah Dunia Sepakbola Virtual

Jakarta – Di tengah belum jelasnya kompetisi sepak bola di Indonesia, beberapa klub memutuskan untuk melakukan diversifikasi bisnisnya dengan merambah ke e-sport atau menaungi cabang olah raga lain.

Hal ini juga dilakukan oleh PSIS Semarang sehingga logo dan nama sponsor tidak hanya terlihat di lapangan hijau, tapi juga di layar konsol dan TV LED.

”Jadi, sponsor dapat benefit tambahan. Semua yang masuk pasti melekat di kegiatan PSIS,” kata Chief Executive Officer (CEO) Yoyok Sukawi.

PSIS Semarang memang sudah mulai mengembangkan sayap bisnisnya dengan merambah sepak bola virtual melalui tim e-sport. Pemain e-sport PSIS Semarang, Setia Widianto, membawa nama PSIS di Indonesian Football e-League (IFeL) edisi pertama.

Menurut Yoyok, PSIS memang sedang mencoba untuk berkembang ke arah e-sport.

”Khususnya teknologi. Bisnis kami pelan, tapi pasti akan berkembang ke arah e-sport juga,” jelas Yoyok.

Selain PSIS Semarang, Arema FC juga mulai berpartisipasi di IFeL tahun lalu. Menurut media officer Arema, Sudarmadji, meski belum maksimal namun manajemen Arema sudah mulai mencoba mengelola cabang olahraga lain di luar sepak bola yang animonya sangat besar.

”Saat ini banyak yang datang ke Arema untuk bersinergi mengelolanya agar lebih kompeten,” ungkap Sudarmadji.

Dua klub papan atas Liga 1 lainnya yakni Persib Bandung dan Bali United bahkan telah menaungi klub basket, selain juga merambah ke e-sport.

Bali United misalnya, mereka adalah pendatang baru di Indonesian Basketball League. Tim basket Bali United bahkan serius merekrut beberapa nama pebasket terkenal seperti Yerikho Tuasela dari Pacific Surabaya, Daniel Wenas dari Louvre United.

”Target kami sementara ini (di IBL) tembus playoff. Tapi, tidak tertutup kemungkinan buat target lebih,” kata Manajer Bali United Sigit Sugiantoro.

”Tapi, tidak tertutup . . . . . . kemungkinan buat target lebih,” tambahnya.

Sementara itu, sebelumnya Bali United juga memiliki tim e-sport yang mereka namakan Island of Gods.

Bali United juga sudah pernah mengadakan turnamen e-sport yang mempertandingkan PUBG hingga Mobile Legends.

”Melihat tren dunia berubah, lalu harus ada kejelasan antara yang suka sepak bola dan e-sport. Jadi, saya rasa kami harus jadi pionir untuk masuk ke dunia e-sport,” ucap Pieter Tanuri, owner Bali United.

Diversifikasi bisnis yang dilakukan klub sepak bola memang sudah jamak dilakukan oleh klub di Eropa, Amerika Latin, dan sejumlah negara Asia.

Real Madrid dan Barcelona contohnya. Real Madrid memiliki tim basket Baloncesto, sedangkan Barcelona memiliki Basquet.

Baloncesto telah 35 kali menjuarai liga domestik dan sekali juara Eropa. Sementara Basquet baru dua kali berjaya di Eropa dan 18 kali juara Spanyol.

Sementara itu, Ketua IFeL 2020, Putra Sutopo mengakui, belum banyak klub yang mengerti betapa besarnya pasar e-sport, khususnya virtual football.

Karena itu, Putra Sutopo tidak segan memberikan subsidi bagi klub-klub yang mau melihat bagaimana menguntungkannya dunia e-sport di Indonesia.

”Gaji pemain, fasilitasnya, tempat latihannya, akomodasi dari tempat mereka asal, makan, semua kami yang atur dulu. Tapi, di musim yang baru tahun ini kami akan mencoba hal baru lagi,” Putra Sutopo.

x

Check Also

Pelatih PSIS Semarang Waspadai Kekuatan Persiraja Banda Aceh

Jakarta – PSIS Semarang akan berhadapan dengan Persiraja Banda Aceh pada laga pekan ketiga kompetisi ...