Home > Berita Liga Inggris > Chelsea > Media Jerman Meyakini Kai Havertz Menyesal Gabung Chelsea

Media Jerman Meyakini Kai Havertz Menyesal Gabung Chelsea

London – Chelsea seperti mengalami kesulitan dalam mengembangkan permainannya di musim ini meski bertaburan pemain bintang.

Chelsea telah menghabiskan dana ratusan juta euro untuk membeli pemain berkualitas di awal musim lalu. Salah satunya adalah Kai Havertz.

Bahkan untuk seorang Kai Havertz, The Blues rela mengeluarkan dana hingga 89 juta euro (Rp1,54 triliun) untuk memindahkan Kai Havertz dari Bayer Leverkusen ke Stamford Bridge.

Namun sayangnya, saat mengenakan jersey Chelsea, sang striker hanya mampu mencetak 1 gol dan 3 assist dari 16 pertandingannya di Liga Inggris musim 2020/21.

Bahan menurut laporan media Jerman, Bild, Kai Havertz sangat menyesal telah meninggalkan Bayer Leverkusen untuk bergabung dengan Chelsea.

“Kai Havertz mengutuk dirinya sendiri karena meninggalkan Leverkusen terlalu cepat untuk bergabung dengan Chelsea. Semuanya buruk. Tidak ada Natal, jauh dari rumah, bahkan tidak bermain piano. Itu hukuman yang terlalu berat untuk seseorang yang memiliki bakat seperti dia,” tulis Bild.

Meski demikian, pelatih Chelsea, Frank Lampard mencoba membela Havertz dengan mengungkapkan bahwa sang pemain belum menemukan performa terbaiknya sejak terinfeksi Covid-19 di awal musim.

“Fisiknya menurun, kami mencoba membantu mengatasinya. Bakat Havertz tidak perlu dipertanyakan, tapi dia butuh waktu untuk beradaptasi dengan Chelsea,” kata Lampard.

Mantan pelatih Kai Havertz di Bayer Leverkusen, Peter Bosz, mengatakan bahwa biaya besar yang dikeluarkan Chelsea untuk mendatangkan Kai Havertz harus dibayar dengan performa apik di lapangan.

“Saya bisa mengerti mengapa Chelsea membeli Havertz, tapi saya belum melihat ide konkret Lampard untuk dia,” kata Peter Bosz.

“Membela Havertz seperti yang dilakukan Lampard adalah hal yang baik, tetapi pada akhirnya Havertz harus menunjukkan kemampuannya di lapangan. Biaya besar perlu dibuktikan menjadi gol atau assist, tapi Kai tidak bisa melakukannya,” sambungnya.

Havertz memang sempat bermain bagus saat Chelsea menghadapi West Brom, Crystal Palace, dan Southampton di Liga Inggris, serta Krasnodar di Liga Champions. Ketika itu, Lampard menempatkannya di posisi gelandang serang.

Di posisi itu Kai Havertz diberikan kebebasan untuk memanfaatkan kemampuannya mencari ruang, menggiring bola, dan menyelesaikannya menjadi gol maupun assist.

Namun setelah itu, Havertz ditarik untuk bermain sebagai gelandang tengah. Sejak itulah permainan Havertz menjadi menurun.

Saat masih berseragam Bayer Leverkusen, Havertz menonjol di nomor 10 dalam formasi 4-2-3-1, gelandang serang 3-4-2-1, dan juga sebagai ‘false nine’.

Sementara di Chelsea, Lampard menarik Havertz ke nomor 8 dalam skuad. Havertz cenderung bermain untuk membantu pertahanan Chelsea dari pada membahayakan gawang lawan.

Pada puncak . . . . . . kariernya sebagai pesepakbola, Lampard memang pemain nomor 8 yang memiliki kemampuan tendangan jarak jauh, dan juga pintar mengatur tempo serangan. Mungkin Lampard ingin Kai Haverts mewarisi posisinya di Stamford Bridge. Namun pada kenyataannya, Havertz tidak cukup kuat untuk bermain terus menerus seperti Lampard di masa lalu.

Selain itu, skuad Chelsea di musim 2020/2021 ini tidak sama dengan saat Lampard masih aktif bermain untuk The Blues. Chelsea tidak memiliki pemain seperti Claude Makelele di posisi gelandang jangkar, atau pemain berotot dan memiliki kekuatan fisik seperti Michael Ballack dan Michael Essien.

N’Golo Kante kesulitan di Chelsea karena Lampard hanya ingin menggunakannya di posisi gelandang jangkar. Sementara Mateo Kovacic, Jorginho, atau Mason Mount adalah pemain yang bukan mengandalkan kekuatan fisik.

Sejak akhir musim lalu, Lampard selalu berusaha membangkitkan semangat juang Chelsea yang menurutnya kerap kehilangan konsentrasi sejak Chelsea ditahan 2-2 oleh Bournemouth pada akhir Februari tahun lalu.

“Menurut saya usia tidak penting di sini. Ini masalah konsentrasi. Chelsea harus fokus. Gol mengubah permainan, mengubah atmosfer di lapangan, para pemain harus berusaha lebih keras, lebih fokus, Kami telah menghadapi banyak situasi seperti ini dan banyak membicarakannya, Tetapi para pemain harus menemukan solusi di lapangan,” ucap Lampard.

Sepuluh bulan kemudian, ketika saat Chelsea kalah dalam dua pertandingan berturut-turut melawan Everton dan Wolverhampton, Lampard kembali mengeluhkan para pemainnya yang disebutnya tidak tampil konsisten.

“Begitu para pemain berpikir mereka bermain bagus. Hal ini (kegagalan) akan terus terjadi,” kata Lampard.

Dalam lima pertandingan terakhirnya, Chelsea hanya menang sekali sehingga posisinya turun ke peringkat ke-8 klasemen sementara Liga Inggris 2020/21.

Sosok yang paling mengetahui kerasnya Liga Inggris dan Chelsea adalah Lampard. Namun kini, Lampard mengaku pasrah bila ternyata manajemen akan menggantinya dengan pelatih lain.

Beberapa media Inggris bahkan telah menyebutkan kemungkinan posisi Lampard akan digantikan Thomas Tuchel atau Julien Nagelsmann.

Memang Chelsea telah mendatangkan banyak pemain bintang, namun tidak hanya Kai Havertz yang performanya menurun sejak bergabung bersama Chelsea di bawah asuhan Frank Lampard.

x

Check Also

John Terry Tak Ingin Tergesa-gesa Mengambil Pekerjaan Sebagai Pelatih

Nganggur, John Terry Akhirnya Dapat Tawaran Kerjaan Dari Mantan Klubnya Chelsea

Jakarta – John Terry saat ini tengah menganggur usai mundur dari posisinya sebagai asisten pelatih ...