Home > Berita Liga Italia > Mandzukic Diragukan Bisa Bersinar di AC Milan

Mandzukic Diragukan Bisa Bersinar di AC Milan

Berusia 34 tahun serta sudah 10 bulan tidak turun dalam laga profesional, apakah AC Milan sudah blunder dengan mendatangkan seorang Mario Mandzukic?

Mario Mandzukic kini mengambil keputusan besar setelah ia menerima tawaran klub dari Qatar, Al-Duhali. Kepindahan bomber uzur asal Kroasia itu ke Timur Tengah sudah dianggap banyak pihak sebagai pengabisan dari kariernya.

Sebelum memutuskan ke Qatar, Mario Mandzukic memang sudah ambil bagian dalam persaingan sepak bola pada level tinggi di dua klub raksasa yakni Bayern Munchen serta Juventus.

Bukan hanya sekadar numpang lewat, di sana Mandzukic juga berhasil meraih banyak trofi.

Namun, ketika sebagian orang mengira bahwa kariernya sudah tamat, secara mengejutkan pencetak 33 gol untuk Timnas Kroasia itu akhirnya kembali ke Eropa untuk membela klub yang tidak kalah besar, AC Milan.

Boooom! Mungkin itu adalah respons yang bisa diberikan atas kepindahan Mandzukic ke AC Milan. Setelah sejak musim lalu sudah jadi buruan, Mandzukic akhirnya benar-benar bisa bergabung dengan armada dari Rossoneri lewat kontrak setengah musim.

Sama seperti Ibrahimovic, nama dari Mario Mandzukic juga sempat harum sebagai seorang striker jangkung yang mematikan. Golnya ke gawang Real Madrid di final Liga Champions tentu tidak akan terlupakan.

Namun, di balik euforia ini, ada sejumlah hal yang mengganjal di hati para Milanisti. Seperti diketahui, Mandzukic datang ke Milan dengan status bebas transfer.

Mandzukic telah bebas dari kontraknya bersama AL-Duhail. Namun, kali ini ia terlampau ‘bebas’ sampai-sampai terakhir kali ia main untuk klubnya adalah pada masa sebelum pandemi COVID-19 melanda luas dunia.

Ya, Liga Qatar tempat Al-Duhail bersaing harus dihentikan pada awal Maret karena meletusnya pandemi COVID-19.  Laga melawan Al-Sailiya SC pada  7 Maret 2020 adalah pertandingan terakhir yang Mandzukic lakoni.

Mandzukic, yang menolak kebijakan pemotongan gaji sebesar 40 persen, akhirnya memilih mengakhiri kontraknya pada 5 Juli 2020, atau sekitar tiga pekan sebelum Liga Qatar kembali digulirkan.

Setelah itu, Mandzukic tidak menerima tawaran dari klub mana pun. Itu artinya, dari awal tahun 2020 sampai Januari 2021 ini, Mandzukic absen dari panggung sepak bola profesional.

Dengan usia yang kini genap 34 tahun dan tak adanya pertandingan profesional selama sekitar 10 bulan, Mandzukic pun diragukan untuk tim sebesar AC Milan. Lalu, apakah merekrut Mandzukic merupakan sebuah blunder bagi manajemen I Rossoneri?

Mandzukic, Bukan Striker Gaek Biasa?

Transfer Mario Mandzukic Diyakini Bukan Solusi Bagi Krisis MU

Mario Mandzukic memiliki rekam jejak cemerlang di masa jayanya dalam sepak bola Eropa. Bersama Bayern Munchen ia meraih treble winner yang meliputi Liga Champions, Bundesliga, dan DFB Pokal.

Di Juventus, ia juga memenangkan 4 gelar scudetto dan 3 Piala Italia. Gelar lain yang digapainya adalah LaLiga Spanyol bersama Atletico Madrid.

Sementara secara individu, prestasinya juga tak diragukan lagi. Ia pernah menyabet gelar top skorer Euro 2012 dan dua kali jadi pemain terbaik Kroasia.

Namun karier Mario Mandzukic memasuki masa senja setelah ia memilih hengkang . . . . . . dari Juventus. Meski begitu, bukan berarti kariernya tamat.

Manajemen AC Milan tentu tidak akan sembarangan dalam merekrut pemain,. Jelas ada alasan khusus mengapa Milan merekrut pemain yang 10 bulan tak turun dalam laga profesional.

Dalam tim transfer yang dipimpin Paolo Maldini tentu ada para scouting di lapangan yang memantau keadaan pemain incaran. Milan juga tentunya sudah berdiskusi panjang lebar dengan agen sang pemain.

Maka bisa diasumsikan bahwa Mandzukic mampu menjaga kondisinya tetap fit untuk bisa turun lagi di level tertinggi. Selain itu, sama seperti Zlatan Ibrahimovcic, Mario Mandzukic bukanlah striker biasa.

Ia adalah salah satu striker Eropa dengan penampilan konsisten. Mandzukic selalu menjadi mesin gol andalan di tim yang dibelanya.

Catatan gemilang pun tak henti-hentinya ia dapatkan di usianya yang tak lagi muda. Mandzukic bergabung dengan Juventus pada awal musim 2015/16. Saat bergabung, Mandzukic sudah memasuki usia kepala tiga.

Namun, selama kurun empat tahun di Juve, ia justru meraih banyak pencapaian seperti 4 scudetto, 3 Coppa Italia, dan 2 final Liga Champions. Justru dalam hal trofi, perolehannya lebih banyak di Juventus ketimbang saat di Munchen.

Di usia 30-34 tahun, Mandzukic telah mencatatkan 44 gol dan 17 assist dari 162 pertandingan. Walau statistik individu agak menurun dari saat masa jayanya di Munchen, jumlah ini terbilang sangat bagus bagi pemain yang berduet dengan Gonzalo Higuain ini.

Catatan lain adalah, Mario Mandzukic merupakan bomber yang jarang menderita cedera. Sepanjang kariernya, ia belum pernah menderita cedera lebih dari tiga bulan pemulihan.

Fakta ini menunjukkan bahwa Mandzukic adalah sosok pemain yang kuat. Lebih baik bagi Mandzukic 10 bulan berlatih di luar arena ketimbang 10 bulan harus terkapar tak berdaya karena cedera.

Untuk itu, dengan biaya transfer nol serta gaji yang murah meriah, memilih Mario Mandzukic adalah pilihan ideal bagi Milan dalam rangka membantu perburuan scudetto 2020/21.

Ditambah lagi, dengan usia yang tak lagi muda, Mario Mandzukic menjelma menjadi sosok yang berpengalaman. Harap diingat, Milan merekrut Mandzukic dengan tujuan mencari bomber pelapis.

Kerap kali, mentalitas dan pengalaman dari pemain seperti Mandzukic lebih dibutuhkan untuk perkembangan pemain yang lebih muda seperti Rafael Leao, Jens Petter Hauge, sampai Daniel Maldini.

Faktanya, Mandzukic sudah tahu betul seluk-beluk tim juara di Liga Italia. Maklum, empat gelar scudetto sudah dikoleksinya bersama Juventus. Sama seperti Ibra, pengalaman dan mentalitas ini bisa ia tularkan kepada pemain muda AC Milan lainnya.

Apalagi, ‘King’ Zlatan Ibrahimovic menyambut dan merasa senang dengan berabungnya Mandzukic di Liga Italia bersama AC Milan. Sinergi keduanya bakal sangat membantu Pioli dalam perburuan gelar tahun ini.

x

Check Also

Juventus Tempel Terus Gabriel Jesus, Tidak Mau Menyerah Begitu Saja

Kabar mengenai ketertarikan Juventus terhadap Gabriel Jesus masih saja terdengar. Si Nyonya Tua dilaporkan masih intens berkomunikasi ...