Home > Berita Bola > Sering Heading Bola, Inilah Bahaya Yang Bisa Terjadi Pada Pemain

Sering Heading Bola, Inilah Bahaya Yang Bisa Terjadi Pada Pemain

prediksi jitu

Sepak bola merupakan sebuah olahraga yang akan melibatkan kontak fisik. Tidak ayal resiko dari cedera pun membayanginya.

Namun belakangan ini, resiko dari cedera dalam sepak bola tidak hanya menyasar pada kaki, melainkan juga kepala yang utamanya hadir pada saat ‘Heading’ atau sundulan pada bola.

Kaki merupakan bagian dari tubuh terpenting dalam sepak bola. Lewat kedua kaki ini lah para pemain bisa memainkan olahraga yang terpopuler ini.

Namun, seiring dengan perkembangan jaman, sepak bola juga sudah melibatkan bagian tubuh lain, yakni kepala. Kepala sendiri akan digunakan untuk menanduk atau menyundul bola pada saat berada di udara baik dalam bertahan atau menyerang.

Berbicara soal resiko dari cedera dalam sepak bola, resiko yang terbesar membayangi kaki ketimbang kepala. Tidak terhitung berapa banyak jenis cedera yang akan berkaitan dengan kaki dari para pemain mulai ACL, Hamstring hingga patah kaki.

Biasanya, cedera-cedera ini akan memakan waktu yang cukup lama untuk proses dari pemulihannya. Setelah pulih, para pemain juga bisa melanjutkan kembali permainan. Dengan kata lain, rasio dari cedera kaki yang mengakhiri karier dari pesepak bola tidak begitu banyak.

Justru pada saat ini, resiko dari cedera dengan dampak yang besar yang bisa saja mengakhiri karier dari seseorang dalam sepak bola adalah cedera dari kepala. Cedera itu entah berupa tengkorak kepala yang retak ataupun parahnya bisa demensia.

Proses cederadi bagian kepala dalam sepak bola sendiri tak lepas dari adanya teknik ‘Heading’ atau menyundul bola. Resiko ini tak hanya menghinggapi pemain yang menyundul bola saja. Bahkan sekelas penjaga gawang pun rentan terkena cedera ini.

Tentu saja pecinta sepak bola tidak lupa dengan kejadian yang dialami oleh Petr Cech pada tahun 2006 silam. Kala Chelsea sedang melawan Reading, kiper yang berasal dari Republik Ceko ini mengalami tengkorak retak yang sudah membuatnya harus absen lama dari rumput hijau.

Proses dari retaknya tengkorak Cech sendiri diakibat duel untuk memperebutkan bola. Tanpa sengaja, lutut dari Stephen Hunt menghajar kepalanya sehingga ia tergeletak serta menepi lama.

Cech pun masih bisa kembali ke rumput hijau. Namun ia kembali dengan mengenakan sebuah pelindung kepala atau helm Rugby untuk bermain. Helm tersebut menjadi ciri khasnya selain untuk melindungi tengkorak kepalanya.

Kasus Cech adalah contoh nyata bahwa cedera di kepala di sepak bola juga terkadang menyasar penjaga gawang. Akan tetapi, cedera kepala di sepak bola umumnya didapatkan pemain saat melakukan ‘Heading’.

Bahkan cedera kepala seperti tengkorak retak sempat membuat karier pemain habis. Tanyakan pada Ryan Mason yang harus berhenti bermain setelah kepalanya ditanduk oleh Gary Cahill saat duel udara di laga Chelsea vs Hull City.

Usai dirawat selama sepekan dan menjalani pemulihan selama 13 bulan lamanya, Ryan Mason memutuskan gantung sepatu di usia 26 tahun, usia yang masih terbilang muda di jagat sepak bola.

Dan belum lama ini, retak tengkorak akibat ‘Heading’ pun terjadi kembali di Liga Inggris. Kali ini korbannya adalah penyerang Wolverhampton Wanderers, Raul Jimenez.

Pada pekan ke-10 Liga Inggris 2020/21, Jimenez harus ditandu keluar lapangan setelah melakukan duel udara untuk ‘Heading’ di kotak 16 Wolves. Kepalanya ditanduk oleh David Luiz yang hendak menyambut bola.

Jimenez pun dibawa keluar dan dilarikan ke Rumah Sakit. Sedangkan kepala David Luiz terus mengucurkan darah. Laporan teranyar menyebutkan bahwa Jimenez menderita retak tengkorak dan harus menjalani operasi.

Cedera kepala di sepak bola akibat ‘Heading’ umumnya bersifat fisik seperti retak tengkorak. Namun, setelah diselami lebih lanjut, ‘Heading’ atau menyundul bola juga mengakibatkan efek jangka panjang seperti Demensia.

Demensia sendiri adalah penyakit yang mengakibatkan menurunnya daya ingat dan cara berpikir. Siapa sangka, ‘Heading’ dalam sepak bola bisa membuat pemain mengidap demensia.

Kasus ini pertama kali terungkap saat istri dari legenda Timnas Inggris Sir Bobby Charlton, Norma Charlton, menyebut suaminya mengidap demensia. Pengakuan ini pun lantas menambah panjang daftar pemain Inggris saat Piala Dunia 1966 mengidap demensia.

Kondisi ini pun terbilang memprihatinkan. ‘Heading’ atau menyundul bola nyatanya membawa efek samping berkepanjangan, yakni demensia bahkan kematian.

Kasus paling menggemparkan adalah kasus Jeff Astle mantan pemain sepak bola yang handal dalam duel udara dan menyundul bola.  Pada 2002, ia meninggal dunia karena menderita demensia.

Astle mengalami cedera otak selama bermain dan memberi efek usai dirinya gantung sepatu. Sang anak, Dawn Astle bahkan menyebut laporan seorang Patologis yang menyebut kepala sang ayah seperti kepala petinju yang menerima banyak pukulan.

“Patologis mendeskripsikan seberapa buruk kerusakan di otak Ayahku. Kepalanya seperti kepala petinju. Dan Patologis menyebutkan  penyebab utamanya adalah ‘Heading’ bola. Dengan kata lain, pekerjaan Ayahku yang membunuhnya,” ucap Dawn Astle dikutip dari laman DW.

Adanya ancaman demensia di sepak bola pun lantas membuat FA (Asosiasi sepak bola Inggris) menerapkan aturan yang melarang anak berusia 11 tahun atau di bawahnya untuk diajarkan teknik ‘Heading’ pada Februari 2020.

Tentunya aturan ini pun menjadi sebuah tindakan pencegahan dari efek singkat atau berkepanjangan ‘Heading’ yang mampu menyebabkan retak tengkorak atau lebih parahnya demensia.

Akankah kasus-kasus ini membuat teknik ‘Heading’ akan ditiadakan di sepak bola? Tak ada yang tahu persis. Tapi, dengan segala kasus ini, perlu adanya pencegahan yang lebih konkrit agar tak terjadi kasus serupa di masa mendatang.

x

Check Also

Mohamed Salah dan Deretan Pemain Kandidat Peraih Sepatu Emas Eropa

European Golden Shoe atau Sepatu Emas Eropa menjadi gelar pribadi yang terhitung bergengsi. Gelar ini ...