Home > Berita Liga Champions > Mengapa Real Madrid Kini Tak Lagi Garang di Liga Champions ?

Mengapa Real Madrid Kini Tak Lagi Garang di Liga Champions ?

prediksi jitu

Real Madrid harus menelan hasil buruk lagi di fase grup Liga Champions 2020/21. Dalam kunjungannya ke Ukraina, Los Blancos tumbang dengan skor 0-2 dari Shakhtar Donetsk. Muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya denganmu, Madrid?

Pada laga yang dilangsungkan di Stadion Olimpiader Kiev, Madrid menurunkan skuad terbaiknya. Badai cedera membuat Zinedine Zidane menurunkan sebagian pemain cadangan atau memainkan pemain di luar posisinya.

Diatas kertas, pada laga ini Madrid diunggulkan. Apalagi melihat penampilan Los Blancos di babak pertama yang menguasai pertandingan dan membuat tuan rumah Shakhtar terkurung di areanya.

Di babak pertama, Madrid mampu menguasai 57 persen penguasaan bola serta mampu melepaskan tujuh tembakan di mana lima di antaranya mengarah ke gawang Shakhtar. Sayang, peluang sebanyak itu tak berujung gol untuk Los Blancos.

Banyak pihak menduga bahwa di babak kedua gol akan lahir untuk Madrid. Dugaan tersebut salah. Kesalahan fatal Raphael Varane membuat Shakhtar masuk kembali ke permainan dengan golnya.

Gol dari Dentinho di menit ke-57 tersebut seperti meruntuhkan kepercayaan diri Madrid yang memang menguasai pertandingan.

Dengan segala upaya untuk menyamakan kedudukan, Madrid kembali dikejutkan dengan gol Manor Solomon di menit ke-82. Varane lagi-lagi menjadi biang kerok gol ini karena tak menutup ruang gerak lawan sebelum melepaskan tembakan keras yang berujung gol.

Hasil ini pun membuat Real Madrid jatuh dalam keterpurukan di awal-awal musim 2020/21. Kekalahan atas Shakhtar Donetsk meruntuhkan status Los Blancos sebagai penguasa ajang ini.

Dua gol Shakhtar juga membuat Madrid berada dalam fase terburuknya, terutama soal bertahan. Total sembilan gol sudah bersarang di gawang El Real di fase grup di mana jumlah tersebut menjadi yang terburuk sepanjang keikutsertaannya di kompetisi ini.

Tim sekelas Madrid sebagai peraih gelar terbanyak dan Zidane sebagai pelatih pemegang rekor tiga gelar Liga Champions berturut-turut malah melempem di ajang ini?

Kejatuhan Real Madrid di musim 2020/21 ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Hal ini terlihat sejak pasifnya pergerakan El Real di bursa transfer musim panas 2020.

Madrid sendiri tengah fokus dalam renovasi Santiago Bernabeu sehingga Zidane tak mendapat uang belanja dan hanya mendapatkan tambahan pemain yang pulang dari masa peminjaman (seperti Martin Odegaard).

Selain renovasi stadion, efek pandemi menggoyahkan keuangan Madrid yang mau tidak mau harus berhemat atau bahkan tak ikut melantai di bursa transfer.

Walaupun telah melepas beberapa pemain berkualitas dan mendapat dana segar, Madrid tetap tak mengganti para pemainnya tersebut. Sebut saja ada nama Achraf Hakimi dan Sergio Reguillon. Entah apa yang merasuki pikiran Florentino Perez sehingga tak mendatangkan pengganti pemain berkualitas seperti keduanya.

Tak adanya pemain baru datang dengan kualitas mumpuni membuat Madrid hanya mengandalkan beberapa pemain muda yang pulang dari peminjaman atau dari akademinya. Tentunya, hal ini memberi efek ke kedalaman skuat Los Blancos.

Sebagai contoh, Madrid tak punya pengganti sepadan saat Sergio Ramos cedera. Memang ada Nacho Fernandes dan Eder Militao. Namun, apakah keduanya memiliki kualitas sama seperti sang kapten?

Untuk lini tengah, di posisi ini komposisi pemain Madrid terbilang mewah. Namun, kemewahan ini dibarengi fakta bahwa pilarnya seperti Luka Modric dan Toni Kroos perlahan di makan usia. Memang masih ada Federico Valverde dan Martin Odegaard. Tapi apakah keduanya sebanding dengan Modric dan Kroos?

Lalu di lini depan, untuk penyerang Madrid selalu mengandalkan sosok Karim Benzema. Selain penyerang asal Prancis ini, tak ada penyerang murni yang setajam dirinya.

Memang ada nama Luka Jovic dan Mariano Diaz. Tapi, keduanya tak terbilang moncer jika dibandingkan Benzema.  Ketika Benzema cedera, apakah Madrid bisa mencetak gol dengan leluasa?

Dari sekian banyak problema yang ada di Madrid, tetap saja Zidane menjadi akarnya. Dengan status dan torehannya di masa lampau, Zidane terbebani ekspektasi tinggi yang tak sepadan dengan amunisi atau sumber daya yang ia punya.

Singkatnya, keruntuhan Real Madrid bukanlah sepenuhnya salah Zinedine Zidane. Perlu adanya pergerakan dari manajemen untuk kembali menambah amunisi skuatnya jika tak ingin benar-benar hancur lebur di musim 2020/21.

x

Check Also

Leganda MU Masih Masukkan Liverpool Sebagai Calon Juara Liga Champions Musim Ini

Manchester – Legenda Manchester United Rio Ferdinand memprediksi Liverpool sebagai salah satu tim kandidat juara ...