Home > Berita Liga Indonesia > Pemain Persik Beralih Bisnis Cuci Baju Selama Kompetisi Dihentikan

Pemain Persik Beralih Bisnis Cuci Baju Selama Kompetisi Dihentikan

Kekosongan kompetisi Liga 1 2020 akibat pandemi COVID-19 membuat banyak pesepak bola harus memutar otak menambah penghasilan. Tidak terkecuali pemain Persik Kediri, Dany Saputra yang memilih menekuni bisnis laundry. Hal itu ia lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga karena penghasilan dari sepak bola berkurang.

Bapak satu anak ini mengaku sudah memulai usaha laundry di dekat rumahnya sejak pertama kali meneken kontrak bersama Persik Kediri. Dany mengatakan kalau dirinya tidak butuh pelatihan khusus untuk buka usaha laundry.
Hampir semua ilmunya didapatkan secara autodidak dan hanya berdasarkan sumber internet.

“Tapi, saya pernah ikut workshop mengenai laundry. Kami ada komunitas pengusaha laundry di Kediri, jadi bisa saling membagi ilmu kalau ada masalah seperti ini bagaimana menanganinya,” katanya.

Danny mengakui sedikit mengalami kendala ketika membuka bisnis laundry sekitar bulan Februari lalu. Hal itu dikarenakan pandemi yang menyebar pada Maret hingga berdampak pada usahanya. Tapi, seiring berjalannya waktu dan dibukanya PSBB, bisnis cuciannya kembali lancar,

“Karena sebagian pelanggan saya ini mahasiswa dan pekerja, jadi lumayan ramai,” katanya.

Tidak tanggung-tanggung, omzet yang berhasil diraup dalam satu bulan bisa mencapai 8-12 juta rupiah. Jumlah ini diperkirakan bisa bertambah saat masa sudah new normal atau masa pandemi sudah berakhir.

“Saya dulu memulai usaha butuh uang sekitar 100 juta lebih. Itu sudah termasuk paket lengkap . . . Gabung . . . sabun dan lain-lain, tapi belum termasuk untuk harga sewa toko,” katanya.

Dani membuka usaha itu bersama sang istri. Menurutnya usaha laundry lebih mudah dijalankan dan risikonya tidak terlalu besar.

“Sebenarnya itu ide lama dengan istri, memang kebetulan kami cari usaha di bidang jasa saja, jadi tidak terlalu banyak risiko,” katanya.

Mantan Pemain Persija ini tidak takut kalau suatu saat nanti usaha yang dijalani mengalami bangkrut atau gagal. Walau begitu, ia berharap usahanya tetap langgeng dan semakin sukses sehingga bisa menjadi modal saat gantung sepatu.

“Kalau namanya bisnis, pilihannya kalau tidak untung ya pasti bangkrut dan saya sudah siap mengenai hal itu. Kalau bisnis ini sukses, pasti jadi modal berharga untuk masa depan nanti,” katanya.

“Pesepak bola rata-rata bermain cuma maksimal sampai 40 tahun saja. Setelah itu mereka akan menganggur. Kalau sekarang tidak pintar-pintar cari usaha, ke depannya pasti sulit,” katanya.

x

Check Also

Gibran Sindir Pemain AHHA PS Pati FC Jago Kungfu, Begini Respon Kocak Atta Halilintar

Jakarta – Chairman AHHA PS Pati FC, Atta Halilintar, memberikan respon kocak atas sindiran yang ...