Home > Timnas Indonesia > Eks Pemain Timnas Belanda U-21 Ini Berharap Bisa Perkuat Timnas Indonesia

Eks Pemain Timnas Belanda U-21 Ini Berharap Bisa Perkuat Timnas Indonesia

Kevin Diks menantikan PSSI untuk berdiskusi tentang wacana naturalisasi. Ia sangat berharap bisa menjadi WNI dan membela Timnas Indonesia di masa depan. PSSI sebelumnya pernah memberi pernyataan resmi kalau mereka sudah tidak mungkin menaturalisasi Kevin Diks. Alasannya, ia sudah berusia lebih dari 20 tahun dan tidak bisa diturunkan di Piala Dunia U-20 2021.

PSSI diketahui sedang fokus untuk mencari pemain keturunan berusia muda, sedangkan Kevin Diks yang sudah 24 tahun tidak masuk daftar prioritas PSSI. Selain itu, PSSI juga mengatakan kalau Kevin Diks sudah tidak mungkin dinaturalisasi karena pernah 7 kali bermain untuk Timnas Belanda U-21, termasuk di kualifikasi Piala Eropa U-21 2019. Mereka meyakini, Kevin Diks sudah tidak bisa memperkuat Timnas Indonesia, mengacu ke Statuta FIFA.

“Pasal 5 Ayat 2 Statuta FIFA menyebutkan, seorang pemain yang pernah membela sebuah negara pada kompetisi resmi FIFA tidak berhak untuk membela asosiasi lain pada pertandingan internasional,” tulis pernyataan resmi PSSI pada Selasa (22/9) lalu.

Hasil penelusuran SATUPEDIA menemukan kalau pernyataan PSSI di atas ternyata mengacu ke Statuta FIFA tahun 2019. Padahal, sudah ada Statuta FIFA 2020 yang isinya berbeda dengan Statuta FIFA 2019. Pada kongres virtual yang diadakan Jumat (18/9) lalu, FIFA melakukan amandemen statuta yang salah satunya merevisi syarat-syarat perpindahan seorang pemain dari satu negara ke negara lain.

PSSI pun turut hadir. Pasal 5 Ayat 2 dalam Statuta FIFA 2020 mengatur tentang syarat seorang pemain untuk membela suatu negara (Tim Nasional), bukan membatasi perpindahan pemain sebagaimana diatur di Pasal 5 ayat 2 dalam Statuta FIFA 2019. Berarti, PSSI tidak merujuk ke statuta terbaru FIFA.

Terganjal Statuta Baru FIFA

Walaubegitu, ada banyak syarat baru dari FIFA untuk dipenuhi pemain yang mau berpindah kewarganegaraan. Untuk kasus Kevin Diks, ia terganjal Pasal 9 Ayat 2 b butir iii. Butir iii Pasal 9 Ayat 2 b berbunyi; saat ia (pemain) dimainkan pada pertandingan terakhirnya di kompetisi resmi dalam segala level pertandingan buat asosiasi (Timnas) yang pertama ia bela, ia belum berusia 21 tahun.

Kevin Diks sudah berusia 22 tahun saat terakhir kali ia membela Belanda U-21, yaitu saat melawan Ukraina U-21 di Kualifikasi Piala Eropa U-21 2019 pada 16 Oktober 2018. Saat itu, pemain klub Aarhus GF itu sudah berusia 22 tahun 10 hari. Pada ‘2017-19 UEFA European Under-21 Championship regulations’, disebutkan kalau pemain kelahiran di atas 1 Januari 1996 bisa tampil di ajang Piala Eropa U-21 (termasuk babak kualifikasi).

Jadi, Kevin Diks yang lahir pada 6 Oktober 1996 tidak menyalahi aturan. Kembali mengacu ke Pasal 9 Ayat 2 b Statuta FIFA 2020, Kevin Diks tak bisa pindah negara atau membela Timnas Indonesia. Tapi, ia berpendapat kalau ia bermain di ajang U-21 walau sudah lewat usianya karena aturan yang membolehkan. Seandainya saat itu Kevin Diks dilarang tampil karena sudah lebih dari 21 tahun, tentu ia tidak akan memperkuat Belanda U-21. Hal ini yang menjadi keyakinan Kevin Diks kalau ia masih punya kesempatan untuk membela Timnas Indonesia di masa depan.

“Saya pikir peluang saya pindah ke Indonesia belum tertutup. Mereka (FIFA) beberapa kali mengubah aturan, mungkin 3-4 atau 5 tahun lalu, pemain bisa pindah negara kalau belum main untuk tim senior,” kata Kevin Diks.

“Aturan ini diubah dan diubah lagi setiap saat. Coba lihat . . . . . . Munir (El Haddadi), sekarang dia sudah main buat Timnas Maroko. Bagi saya, kasus itu contoh yang paling serupa dengan saya. Jadi saya pikir masih mungkin (membela Timnas Indonesia) jika mereka (PSSI) mau, bisa saja,” katanya menambahkan.

Kisah Munir yang menjadi inspirasi Kevin Diks

Kevin Diks mereferensikan Munir El Haddadi yang sekarang memperkuat Sevilla. Munir ingin memperkuat Timnas Maroko walau pernah membela Timnas Spanyol senior. Kasus Munir memang sering menjadi referensi dan perdebatan setelah amandemen Statuta FIFA 2020. Amandemen Statuta FIFA 2020 tentang perpindahan kewarganegaraan pemain tidak lepas dari dikabulkannya banding Federasi Sepakbola Maroko (FRMF) ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

FRMF meminta CAS mengabulkan keinginan mereka agar FIFA merevisi statuta agar Munir bisa membela Maroko. Dalam Statuta FIFA 2020, Munir bisa pindah karena belum berusia 21 tahun saat terakhir kali membela Timnas Spanyol senior pada 2014. Tapi ternyata, Munir pernah membela Spanyol U-21 saat sudah berusia 22 tahun melawan Austria U-21 pada 11 November 2016.

Karena alasan itu lah Munir kembali dilarang FIFA memperkuat Timnas Maroko. Padahal, Munir sudah terlanjur dipanggil Timnas Maroko pada jeda internasional Bulan Oktober untuk melawan Senegal dan Kongo. Tapi Munir dan FRMF tidak menyerah. FRMF dilaporkan akan melakukan banding lagi ke CAS.

Tekad FRMF dalam kasus Munir itu yang membuat Kevin Diks iri. Ia berharap PSSI juga memperjuangkan nasibnya yang ingin membela Timnas Indonesia. Bisa saja FRMF mengajukan banding ke CAS dengan argumentasi kalau Munir bermain untuk Spanyol U-21 walau sudah 22 tahun karena tidak dilarang aturan. Hal itu sebagaimana pernyataan Kevin Diks di atas.

“Saya tahu aturan itu (Statuta FIFA 2020). Aneh kalau cuma main kualifikasi tapi tidak bisa pindah negara. Saya memang sudah 21 tahun lebih saat terakhir memperkuat Belanda U-21. Saya pikir itu tidak adil, karena saya tidak main untuk tim utama (maksudnya Timnas senior). Itu pun sudah berlalu dua tahun lalu,” kata Kevin Diks.

“Regulasinya harus lebih fair. Saya masih mau memperkuat Indonesia, tentu kalau PSSI benar-benar mau. Regulasi terus berubah setiap saat. Harusnya (penampilan terakhirnya bersama Belanda U-21) tidak dihitung, jadi bisa tetap pindah negara,” katanya berharap.

Mengejar paspor Indonesia, namun masih membuka peluang untuk Belanda

Kevin Diks sudah memikirkan matang-matang tentang keputusannya memilih Indonesia. Walau saat ini kariernya tidak begitu cemerlang, siapa yang tahu di masa depan ia akan dipanggil Timnas Belanda lagi. Ia pun bahkan mengaku pernah dipanggil Timnas Belanda senior tak lama dari penampilan terakhirnya bersama Belanda U-21. Sayang hal itu tidak terlaksana karena ia cedera.

“Saya terbuka untuk kedua negara (Belanda dan Indonesia), saya pikir saya masih punya potensi buat main buat Belanda lagi. Dua tahun lalu saya hampir main buat Belanda tapi cedera,” tuturnya.

“Tapi ini (memperkuat Indonesia) soal kebanggaan, saya mau membawa Indonesia ke peta sepakbola dunia. Tapi dari tiga bulan lalu tak ada kontak lagi (dengan PSSI),” ucapnya.

x

Check Also

Jelang Lawan Australia, Pelatih Timnas Putri Indonesia Berharap Timnya Tidak Dibebani Dengan Ekspektasi Tinggi

Jakarta – Pelatih Timnas Putri Indonesia, Rudy Eka Priyambada, berharap timnya tidak dibebani dengan ekspektasi ...