Home > Berita Liga Inggris > Mourinho Pernah Lontarkan Kritik Pedas Terhadap 5 Pemain Bintang Ini

Mourinho Pernah Lontarkan Kritik Pedas Terhadap 5 Pemain Bintang Ini

Manajer Tottenham Jose Mourinho mengaku lelah terus mendapat pertanyaan soal masa depan Dele Alli. Ia menegaskan kalau dirinya tidak punya masalah dengan sang pemain. Dele Alli terlempar dari tim inti Spurs di dua pertandingan terakhir, setelah main jelek dalam pertandingan pembuka Premier League melawan Everton.

Muncuk berita Jose Mourinho bersitegang dengan pemain berusia 24 tahun itu, terutama saat sang manajer menariknya keluar pada babak pertama pertandingan. Karier Alli disebut sudah habis di Tottenham Hotspur. Jose tidak ingin lagi ia menjadi bagian dari klub.

Serupa dengan Danny Rose, yang tidak kebagian nomor punggung karena pernah berlaku tidak sopan ke The Special One akhir musim lalu, mempertanyakan kenapa ia sering dicadangkan. Jelang pertandingan kualifikasi Liga Europa melawan Shkendija, Mou buka suara:

“Saya mulai bosan mendengar pertanyaan soal Dele Alli. Terutama berkaitan dengan dokumenter Amazon. Ia anak yang baik dan saya tidak punya masalah dengan dirinya,” kata Jose dalam sesi konferensi pers menjelang pertandingan.

Dalam film dokumenter tentang Tottenham Hotspur yang tayang di Amazon, Jose sempat melontarkan kritik terbuka pada sang anak asuh. Pelatih asal Portugal itu menyebut Dele Alli pemain yang malas dalam sesi latihan. Berkaitan dengan keputusannya tidak menurunkan Dele Alli di dua pertandingan terakhir, Jose Mourinho menanggapnya sebagai sebuah kewajaran.

“Dalam dunia sepak bola hal ini normal terjadi. Ada seorang pemain yang performanya sedang menurun kemudian ia tidak terpilih masuk tim digantikan pemain lain yang lebih pantas, sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya. Saya memiliki banyak pemain. Tak semua pemain terus menerus bermain. Sepak bola ibarat sebuah puzzle, saya harus menyatukannya menyesuaikan dengan kebutuhan,” kata Jose.

Mantan nakhoda Manchester United terang-terangan menyebut Dele Alli punya persoalan menjaga konsistensi permainan.

“Semua orang tahu bagaimana kualitasnya, tapi dalam beberapa tahun terakhir permainannya selalu turun naik. Hal itu pun terjadi di era saya. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan oleh sang pemain,” kata Jose Mourinho.

“Ada tendensi kalau seorang pemain yang tiba-tiba tidak bermain atau dicadangkan, lalu pelatih yang dipersalahkan. Padahal hal itu normal terjadi di sepak bola. Saya dan staf hanya bisa membantu. Kami hanya punya tanggung jawab satu persen saja, sementara sisanya sebanyak 99 persen bergantung pada pemain itu sendiri.”

Mourinho memastikan Dele Alli akan menjadi bagian dari tim saat Tottenham menjalani pertandingan Liga Europa.

“Ia masuk tim, tapi apakah saya akan memainkannya selama 90 menit atau ia menjadi cadangan kita lihat saja nanti,” kata manajer kelahiran 26 Januari 1963 itu.

Delle Ali sedang dikait-kaitkan dengan kepindahan ke PSG. Sejumlah sumber di lingkar dalam klub mengatakan berat baginya untuk bisa masuk tim inti Jose Mourinho. Apalagi Tottenham baru saja mendatangkan Gareth Bale yang membuat persaingan di lini depan akan semakin berat.

Jose disebut lebih nyaman memainkan Giovani Lo Celso di posisi penyerang lubang. Apa yang dialami Dele Alli sejatinya tidak mengherankan. Jose Mourinho dikenal sebagai arsitek yang kurang sabaran menanti momen terbaik dari seorang pemain.

Banyak pemain, yang sejatinya berkualitas, tapi dilepas sebelum sempat membuktikan diri. Beberapa di antaranya bahkan terlibat percekcokan dengan nakhoda yang dikenal doyan ngomong ceplas-ceplos itu.

Berikut ini deretan pemain bagus yang gagal menjalin kolaborasi menawan dengan Jose Mourinho. Uniknya setelah berpisah mereka justru menjelma menjadi bintang yang bersinar terang.

Mohamed Salah

Mohamed Salah mengalami periode tidak mengenakkan saat berkostum Chelsea. Jose Mourinho jarang memberinya kesempatan bermain. Ia kemudian memutuskan pergi ke Fiorentina sebelum akhirnya sekarang membela Liverpool dan sukses di sana.

Mourinho sering disalahkan dengan keputusan The Blues melego Salah. Walau sang manajer membantah kepergian penyerang asal Mersir dari Chelsea adalah keinginannya. Dia malah jatuh cinta pada Salah, yang mendorongnya membeli dari Basel.

Di tahun 2014 Mohamed Salah dibeli Chelea dari Basel. The Blues saat itu dilatih oleh Jose Mourinho. Datang ke Stamford Bridge, Salah gagal menunjukkan potensi terbaiknya setelah hanya tampil 19 kali dengan capaian dua gol dan empat assists.

Pemain asal Mesir itu kalah bersaing dengan Oscar, Willian, Andre Schurrle, dan Eden Hazard. Minimnya menit bermain membuat Chelsea melepasnya ke Fiorentina dengan status pinjam. Salah lalu membela AS Roma dan kembali pulang ke Liga Inggris saat Liverpool membelinya di awal musim 2017-2018.

Tidak banyak yang menyangka Salah akan sangat bersinar bersama The Reds dengan pencapaian juara Liga Champions, Premier League, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Sejak Salah bersinar, nama Mourinho berulang kali dibawa-bawa. Sang manajer dinilai tidak bisa memaksimalkannya dan kemudian memutuskan melegonya.

“Pertama mari membicarakan Salah. Karena banyak pembicaraan yang tidak benar tentang ini. Banyak orang menganggap saya sebagai pelatih yang menjual Salah. Saya adalah pelatih yang membelinya. Jadi itu anggapan yang salah,” kata Mourinho kepada BeIN Sports.

“Saya menghadapi Basel di Liga Champions. Salah masih bocah saat di Basel, saat saya bermain melawan tim tertentu, saya melakukan analisa yang lama pada tim dan pemain-pemain. Dan saya langsung jatuh cinta dengan bocah ini (Salah). Saya membelinya. Memaksa klub untuk membelinya dan saat itu kami memang sudah punya banyak penyerang fantastis. Hazard, Willian, banyak talenta top. Tapi saya tetap meminta membelinya. Saat itu dia masih menjadi winger ketimbang striker. Dia adalah bocah yang tersesat di London,” kata Mourinho.

Salah datang ke London saat dia belum genap 22 tahun. Masih belia, Salah saat itu punya keinginan besar dapat kesempatan bermain reguler. Maka dia dipinjamkan ke Fiorentina. Serie A dinilai Mourinho jadi tempat yang tepat untuk mengasah kemampuan Salah.

“Dia bocah yang tersesat di dunia yang baru. Kami ingin menjadikannya lebih baik dan baik lagi. Tapi dia ingin dapat kesempatan bermain dan tidak mau menunggu. Jadi kami memutuskan meminjamkannya di tempat yang kulturnya sudah sangat saya tahu, Italia. Sepakbola taktikal dan fisikal. Tempat bagus buat bermain. Fiorentina juga menjadi tim yang baik karena tidak ada tekanan untuk mendapatkan titel.”

“Kami akhirnya memutuskan dia pindah. Saat klub memutuskan menjualnya, itu bukan saya. Saya hanya membelinya, tidak mengambil peran menjualnya,” kata Mourinho.

Apapun pembelaan Jose, kenyataannya keputusan Chelsea melepas sang bintang salah besar. Dan sang manajer berperan besar terhadap hal itu karena sering mencadangkannya. Ia semestinya memberi ruang untuk berkembang.

Anthony Martial

Saat menukangi Manchester United, Jose Mourinho pernah tidak akur dengan Anthony Martial. Penyerang asal Prancis itu sering dicadangkan. Sang manajer pun sering mengkritiknya secara terbuka di media. Perselisihan antara Mourinho dengan Martial terjadi saat tur pramusim Man United 2017-2018. Saat itu Mourinho mengkritik Martial yang harus absen karena menemani istrinya yang melahirkan.

Martial kemudian hanya dimainkan tiga kali sebagai starter dalam 11 pertandingan pertama Premier League. Winger Prancis itu perlahan kembali mendapatkan tempat di tim inti MU sehingga akhirnya mencetak sembilan gol plus lima assist di akhir musim.

Di sisi lain, sudah jadi rahasia umum kalau Mourinho . . . . . . tidak segan untuk mengkritik pemainnya sendiri di muka publik. Martial mengungkapkan, dia kurang nyaman dengan hal ini.

“Memang benar aku lebih menyukai untuk diomongi langsung di depan wajahku. Tidak perlu mengatakannya di depan semua orang. Sudah pasti setelahnya, Anda ingin membuktikan kalau dia salah,” kata Martial kepada RMC, yang dikutip ESPN.

“Dia tidak memainkanku di beberapa pertandingan pertama musim. Padahal setiap aku bermain, aku mencetak gol, dan dia pada akhirnya bilang kepadaku: “lihat kan, sekarang kamu tahu apa yang saya inginkan.”

“Itu bisa menyengat, tapi saya cuma ingin menunjukkan kepada dia kalau saya seharusnya ada di lapangan dapat kesempatan bermain untuk membuktikan kemampuan,” kata sang pemain.

Sepeninggal Jose Mourinho, performa Martial kinclong di Tim Setan Merah. Ole Gunnar Solskjaer memberinya banyak kesempatan bermain. Martial pun bermain sebagai seorang striker, posisi yang ia impikan. Saat di tangan Jose ia lebih sering dimainkan sebagai winger, sehingga kemampuan terbaiknya tidak keluar.

Paul Pogba

Masa-masa karier kepelatihan Mourinho di Manchester United naik-turun. Tapi mungkin masalah terbesar yang dihadapinya adalah perseteruannya dengan Paul Pogba. Didatangkan pada musim panas 2016 dengan rekor dunia saat itu sebesar 89 juta poundsterling, hanya beberapa bulan setelah kedatangan Mourinho di klub, Pogba seharusnya menjadi pemain yang membawa United kembali ke puncak Premier League.

Sayangnya, kolaborasi dua figur top ini tidak berhasil. Segalanya dimulai dengan baik, dengan Mourinho menggambarkan orang Prancis itu sebagai salah satu pemain terbaik di dunia. Dan walaupun performa Pogba tidak sempurna sepanjang musim 2016-2017, pemain Portugal itu terus membelanya dari para pencela.

Tapi, keadaan berubah menjadi buruk saat Pogba mengalami cedera hamstring pada September 2017. Alih-alih tinggal di Manchester, pria Prancis itu terbang ke Miami untuk memulihkan diri dan keretakan dalam hubungannya dengan pelatih asal Portugal itu segera menyusul.

Kekalahan dari Tottenham pada Januari 2018 membuat Pogba ditarik keluar setelah hanya satu jam, dan segera setelah itu, pemain Prancis itu mendapati dirinya duduk di bangku cadangan.

Pada Maret 2018, berita beredar kalau keduanya itu hampir tidak berbicara. Dan pada awal musim 2018-19, jelas kalau hubungan itu tidak dapat diperbaiki. Pemain serang asal Prancis itu dicopot dari jabatan wakil kapten klub setelah bentrok pada September 2018. Dan deretan ruang ganti pada Desember 2018 dilaporkan melihat Mourinho melabeli Pogba sebagai “virus”. Pada akhirnya, Pogba tertawa terakhir.

Hanya beberapa minggu kemudian, United memecat bos Portugal itu setelah penampilan United yang buruk. Dan Pogba menjawab dengan tweet samar yang kemudian dihapus menunjukkan dia tersenyum masam dan menyatakan “caption this”.

Itu adalah tembakan terselubung ke Jose Mourinho, yang kemudian akan mengatakan kalau dia selalu mengambil risiko dipecat kalau dia membuat marah Pogba yang dia sebutnya sebagai “Yang Mulia” di United.

Luke Shaw

Sementara perseteruan Mourinho dengan Paul Pogba cenderung menjadi berita utama selama masa jabatannya sebagai bos Manchester United, ternyata pemain Prancis itu bukanlah satu-satunya pemain yang ribut dengan manajer asal Portugal itu.

Bek kiri Luke Shaw terus-menerus dikritik oleh Jose secara frontal di media. Statusnya di tim dibekukan sebelum Mourinho meninggalkan Old Trafford pada Desember 2018. Kebugaran Shaw, komitmen untuk berlatih, dan berat badan semuanya dipertanyakan oleh Jose.

Dan pada April 2017, dia dikritik Shaw karena pengambilan keputusannya di lapangan, dengan Mourinho mengatakan kalau untuk berhasil, dia perlu “mengubah otak sepak bolanya”.

Segalanya tidak membaik untuk bek kiri itu selama musim kedua Mourinho menangani United, karena ia ditarik keluar pada babak pertama saat pertandingan Piala FA melawan Brighton & Hove Albion. Belakangan, laporan bahkan menunjukkan kalau rekan satu tim Shaw merasa seperti sedang “diganggu” oleh bosnya.

Musim 2017-18 berakhir dengan pemain bek kiri itu hanya membuat 11 penampilan Premier League untuk Mourinho, yang jelas tidak senang dengannya. Sementara itu, Shaw kelihatannya menerima kritikan itu, tidak pernah berbicara menentang Mourinho di media.

Pada musim 2018-19 dia kelihatannya mendukung metode sang pelatih. Shaw mengatakan dalam sebuah wawancara kalau “Anda membutuhkan kulit tebal untuk bermain di bawah manajer ini, tapi kami harus berjuang untuknya.”

Tapi, kurang dari sebulan setelah wawancara, Mourinho pergi dari United, sementara Shaw tetap di klub dan sebagian besar menjadi bek kiri pilihan pertama di Manchester United.

Mesut Ozil

Gelandang serang Arsenal, Mesut Ozil, mengaku pernah dipanggil pengecut oleh Jose Mourinho saat sama-sama berada di Real Madrid. Walau kesal, Ozil menilai Mourinho memiliki maksud baik kepada dirinya. Pemain Timnas Jerman itu menghabiskan tiga musim bersama Real Madrid di bawah asuhan Mourinho dari 2010 sampai 2013.

Keduanya membantu Los Blancos meraih satu trofi La Liga, satu Copa del Rey, dan satu Piala Super Spanyol. Tidak puas dengan performa Ozil, Mourinho pernah melontarkan kritik dengan sindiran keras. Saking kesalnya, Ozil merespons dengan melempar kostumnya dan menantang pelatih asal Portugal itu bermain di lapangan.

Nyatanya, Mourinho tidak berhenti menyoroti performa Mesut Ozil yang kurang maksimal. Pada akhirnya, pria berdarah Turki itu meminta maaf kepada para pemain Real Madrid dan menyadari niat baik Mourinho.

“Mourinho hanya tertawa dan mengatakan, ‘Apakah Anda sudah menyerah? Anda seorang pengecut. Apa yang ingin Anda lakukan? Mandi dengan air hangat dan berkeramas? Apakah Anda ingin sendirian Atau menunjukkan kepada rekan-rekan setim, para suporter dan saya apa yang bisa Anda lakukan? Kenapa Anda tidak menangis, Mesut! Anda seperti bayi dan pergi ke kamar mandi. Kami tidak membutuhkan Anda’,” katanya.

“Saya mengambil handuk dan berjalan di depan dia menuju kamar mandi tanpa mengatakan satu kata pun kepadanya. Lalu, saya meminta maaf atas sikap saya kepada kapten Sergio Ramos dan semua rekan setim,” lanjut pemain 28 tahun itu.

“Pada akhirnya, saya memahami kenapa Mourinho meneriaki saya seperti itu di depan para pemain lain. Dia ingin memperjelas kalau dia tidak ingin saya bersantai. Dia ingin mengeluarkan saya dari zona nyaman, menjadi lebih kuat dan mendorong saya untuk terus berkembang,” katanya.

Mesut Ozil pergi dari Real Madrid seiring pemecatan Jose Mourinho pada musim panas 2013. Pemain berusia 28 tahun itu pergi ke Arsenal dengan nilai transfer 40 juta pounds atau setara dengan Rp 657 miliar.

“Mourinho benar saat itu. Saya merasa bermain indah sudah cukup saat tiba di Madrid. Saya terlalu cepat puas. Mourinho menekan saya dan saya berterima kasih kepadanya untuk hal tersebut,” katanya.

“Dia juga meminta maaf atas pilihan kata-katanya. Dia memperjelas kalau dia ingin mengeluarkan kemampuan terbaik saya,” kata Mesut Ozil.

x

Check Also

mikel arteta

Berada Di Posisi Paling Akhir Klasemen Sementara Arsenal Terancam Terdegradasi

London – Dalam laga pekan ketiga EPL 2021/22 ini, Arsenal harus menelan kekalahan mereka yang ...