Home > Berita Transfer Pemain > Bursa Transfer > 5 Pemain Bintang Ini Tak Sungkan Umbar Borok Mantan Klubnya

5 Pemain Bintang Ini Tak Sungkan Umbar Borok Mantan Klubnya

Transfer pemain antar klub merupakan suatu hal yang lumrah di dunia sepak bola. Namun, ada beberapa kepindahan pemain yang tak jarang meninggalkan luka dan dendam.

Terkadang, bisa akibat kedatangan pelatih baru yang memicu perubahan gaya bermain klub yang dapat membuat pemain yang dinilai gagal beradaptasi dengan sistem baru diminta angkat kaki.

Seorang pemain mungkin pindah dari klubnya karena kekurangan jam terbang bertanding. Kadang-kadang, para pemain pindah karena butuh tantangan baru setelah melihat klubnya kurang ambisius. Mereka butuh tantangan baru.

Pesepakbola juga bisa pindah klub karena tawaran gaji atau klub yang memilikinya diiming-imingi mahar transfer yang menguntungkan.

Kepindahan-kepindahan semacam itu banyak terjadi, dan sudah menjadi pemandangan umum.

Ada situasi yang berbeda, menyangkut transfer, yang bersifat pribadi membuat pemain terluka.

Ketika seorang pemain tiba-tiba dirubah dari posisi awal pilihannya untuk mengakomodasi pemain lain. Dia kemudian mungkin merasa ‘tidak adil’ atas penampilannya di posisi ‘baru’ dan kehilangan kepercayaan dari pelatih.

Beberapa pemain masih meninggalkan klub dengan sikap ramah dengan situasi-situasi di atas, tetapi banyak juga contoh ketika pemain menjelek-jelekkan mantan bos atau klub mereka, karena perasaan dendam.

Berikut ada lima pemain yang terlibat konflik dengan mantan klubnya. Mereka mengumbar aib kisah lama yang menghebohkan jagat sepak bola.

Alexis Sanchez

Alexis Sanchez
Alexis Sanchez, yang rata-rata mencetak hampir satu gol setiap dua pertandingan selama 166 penampilannya di semua kompetisi untuk Arsenal, secara tiba-tiba pindah ke Manchester United.

Di klub barunya itu ia kehilangan kesaktian. Ia hanya menyumbang tiga gol dalam 32 pertandingan Liga Inggris setelah sebelumnya mengoleksi 24 gol untuk Arsenal di musim sebelumnya.

Setelah tinggal satu setengah tahun yang tidak menyenangkan di Manchester United, di mana ia hanya mencetak lima kali dalam 45 pertandingan, sang penyerang dengan gaji tertinggi di United dipinjamkan ke Inter Milan pada 2019.

Penampilan Sanchez nyaris sama saja di lingkungan barunya saat dia hanya mencetak empat gol dalam 32 pertandingan untuk runner-up Serie A tersebut. Namun, Inter memutuskan untuk membuat kesepakatan dan membeli Sanchez dengan kontrak tiga tahun hanya beberapa pekan lalu.

Kontroversi tersebut dibuat penyerang asal Chile itu ketika membuka kenyataan dari awal sudah tidak nyaman bermain di Manchester United.

“Saya ingin memberi tahu Anda tentang masa saya di United, tentang banyak hal yang telah dikatakan yang membuat saya terlihat buruk. Sebelum pergi ke sana, saya memiliki kesepakatan dengan Manchester City, tetapi itu tidak berhasil, dan saya mendapat kesempatan bergabung dengan Manchester United. Itu adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya yang mengaggumi klub sejak kecil.”

“Saya akhirnya menandatangani tanpa memiliki banyak informasi tentang apa yang terjadi dengan kepindahan tersebut. Selama beberapa hari pertama saya bersama rekan satu tim baru saya, terkadang ada hal-hal tertentu yang tidak Anda sadari sampai Anda tiba. Setelah pelatihan pertama, saya menyadari banyak hal. Ketika saya sampai di rumah, saya bertanya kepada keluarga dan agen saya: ‘Bisakah kontrak saya dibatalkan dan dapatkah saya kembali ke Arsenal?’ ”

Sanchez melanjutkan dengan kalimat kasarnya dengan mengatakan bahwa para pemain Manchester United tidak kompak. Ia juga mengeluhkan kurangnya waktu bermain:

“Kami tidak bersatu sebagai sebuah tim. Sebagai pemain, Anda membutuhkan tim untuk bersatu, menjadi sebuah keluarga, dan kami tidak. Dan Anda bisa melihatnya di lapangan, tetapi karena mereka harus menyalahkan seseorang, mereka akan melakukannya. selalu menyalahkan saya. Kadang-kadang, saya bahkan tidak mau bermain atau saya akan bermain selama 20 atau 30 menit, tetapi itu akan selalu menjadi kesalahan saya.”

“Saya tidak mengerti bagaimana saya berubah dari menjadi salah satu pemain terbaik di Liga Inggris lima bulan lalu menjadi spesialis penghuni bangku cadangan. Itu sangat menyakitkan.”

Neymar

Neymar

Dunia seperti berada di bawah kaki Neymar selama empat musim bersama Barcelona saat ia mencetak 105 gol dalam 186 penampilan untuk klub di semua kompetisi. Dalam periode waktu itu klub memenangkan beberapa penghargaan domestik dan kontinental termasuk treble pada 2014-15.

Bersama Lionel Messi dan Luis Suarez, Neymar membentuk salah satu trio penyerang paling menakutkan di dunia sepak bola, yang dijuluki MSN.

Akan tetapi, selama waktunya di klub, Neymar sebagian besar selalu berada di bawah bayang-bayang rekan setimnya Lionel Messi dan menyadari bahwa dia tidak akan bisa memenangkan penghargaan individu seperti Ballon d’Or jika dia tetap bertahan di Camp Nou.

Paris St. Germain, yang didukung oleh pemilik kaya raya asal Timur Tengah, memercikkan uang tunai dan Neymar menjadi pemain termahal di dunia setelah klub Prancis membayar 222 juta euro untuk jasanya.

Kepindahan Neymar akhirnya memicu kemarahan di antara para penggemar Barcelona, ​​tetapi sang pemain mengalihkan kesalahan ke dewan klub.

“Saya tidak punya sesuatu untuk dikatakan kepada dewan Barcelona. Bagi saya … Sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu, bahwa saya kecewa dengan mereka.”

“Saya menghabiskan empat tahun di sana dan sangat bahagia. Saya mulai bahagia, menghabiskan empat tahun bahagia dan pergi bahagia. Tapi tidak dengan mereka. Bagi saya, mereka seharusnya tidak bertanggung jawab atas Barca. Barca pantas mendapatkan yang lebih baik, dan semua orang tahu ini,” ujar Neymar.

Tetapi fakta yang ada , ternyata, pemain itu hampir tidak bersinar di ibu kota Paris setelah semua pusat perhatian tertuju padanya. Karena cedera, Neymar hanya membuat 85 penampilan . . . . . . selama tiga musim. Namun, dalam situasi sulit ia mencetak 70 gol.

Pemain Brasil itu membuat marah para pendukung klubnya ketika meminta pindah kembali ke Barcelona tahun lalu. Sepertinya Neymar ini tipikal pemain yang doyan cari gara-gara.

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic bergabung di Barcelona pada musim panas 2009 setelah klub Catalan tersebut melakukan kesepakatan pertukaran yang melibatkan pemenang treble, Samuel Eto’o ke Inter Milan.

Ibrahimovic telah mencetak setidaknya 15 gol dalam tiga musim terakhirnya bersama Nerazzurri. Disesalkan sekali  karier sepak bolanya amat pendek di Spanyol. Striker Swedia itu mencetak 16 gol liga yang dapat dikreditkan dan empat lagi di Liga Champions meskipun bermain sebagai pemain kedua di bawah bayang-bayang Lionel Messi.

Impian Ibrahimovic bermain di Barcelona dalam waktu yang lama kandas ia dipaksa Pep Guardiola bermain di sayap kanan agar Lionel Messi bisa menjadi penyerang tengah.

Karena sering membuat masalah dalam urusan posisi main, Ibra kemudian dijual ke AC Milan pada musim berikutnya. Zlatan yang dikenal sebagai pemain dengan kepribadian kuat tak senang dengan situasi ini. Ia tak merasa gagal di Barcelona. Seusai pindah Ibra menkritik mantan klubnya.

Zlatan Ibrahimovic merasa para pemain superstar di Barcelona bertingkah seperti anak sekolah.

“Saya sudah mendapat kesan bahwa Barcelona seperti kembali ke Ajax, itu seperti kembali ke sekolah. Tak satu pun dari mereka yang bertingkah seperti superstar, dan itu aneh.”

“Messi, Xavi, [Andres] Iniesta, semuanya, mereka seperti anak sekolah. Pesepak bola terbaik di dunia berdiri di sana dengan kepala tertunduk, dan saya tidak memahaminya. Itu konyol,” katanya.

Terakhir akhirnya terungkap bahwa pemain Swedia itu tidak berbicara dengan Guardiola selama setengah musim.

“Di televisi dia selalu berperan sebagai pria tangguh tetapi ketika ada pertemuan tatap muka yang nyata, dia bersembunyi. Sebagai pelatih, dia adalah fenomena, tetapi sebagai pria…Ia menjijikkan,” tutur Zlatan Ibrahimovic.

Pepe

Pepe

Pepe telah temengukir namanya di klub raksasa Spanyol Real Madrid selama 10 tahun penuh kesuksesan.

Bek tengah Portugal memenangkan tiga gelar Liga Champions dan La Liga saat ia membentuk kemitraan pertahanan tengah yang tangguh dengan Sergio Ramos.

Sampai satu waktu, keadaan berubah menjadi buruk ketika klub menolak memberinya perpanjangan kontrak dua tahun dan menawarkannya hanya satu tahun, sesuatu yang tidak disukai pemain yang menghabiskan satu dekade di klub.

“Madrid tidak menawarkan saya dua tahun. Mereka baru saja menawari saya satu tahun, jadi jelas saya tidak akan melanjutkannya dengan Real Madrid. Ada cara untuk berbicara dan bernegosiasi tetapi klub tidak bertindak dengan benar. Itu membuatku kesal.”

Pepe memutuskan untuk bergabung dengan Besiktas dengan status bebas transfer pada akhir musim 2016-17 setelah memenangkan gelar Liga Champions ketiganya. Sang bek berhasil membuat gusar mantan klubnya dengan mengatakan bahwa fans Besiktas lebih bergairah daripada yang ada di Real Madrid.

“Penggemar Besiktas luar biasa. Pada saat bermain untuk Real Madrid, kami harus memotivasi diri kami sendiri karena para pendukung tidak begitu bersemangat. Di sini, di Besiktas, setiap pemain menuju ke lapangan dengan motivasi penuh untuk tampil baik dengan bantuan dukungan yang luar biasa.”

Mario Balotelli

Mario Balotelli

Mario Balotelli kembali untuk kedua kalinya di Premier League ketika ia bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2015 setelah dua musim di AC Milan.

Balotelli dikenal sebagai pemain yang memiliki kecepatan, kekuatan fisik, dan ketajamannya untuk mencetak gol. Liverpool tertarik untuk mendapatkan jasanya meskipun sang penyerang memiliki sikap badung di luar lapangan.

Seperti yang diperkirakan oleh banyak pakar dan penggemar, striker Italia itu gagal menemukan bentuk permainan terbaiknya bersama klub Anfield karena sikap ketidakprofesionalannya.

Dia hanya mencetak empat gol dalam 28 pertandingan dan gagal mempertahankan posisi awal di tim sebelum dipinjamkan kembali ke AC Milan.

“Itu adalah kesalahan terburuk dalam hidup saya. Terlepas dari para penggemar, yang fantastis dengan saya, saya harus jujur, dan para pemain, yang memiliki hubungan baik dengan saya, saya tidak menyukai klub ini,” kata sang pemain.

Namun, dalam wawancara dengan Gazette dello Sport, Balotelli memilih untuk menyalahkan pelatih Liverpool, Brendon Rodgers atas taktiknya yang membuatnya gagal berkembang di Anfield.

“Saya harus menerima kesalahan saya, tetapi formasi yang dipilih oleh Rodgers tidak sesuai dengan karakteristik saya. Pada awalnya saya melewatkan beberapa peluang mudah, kemudian saya memiliki lebih sedikit peluang untuk mencetak gol, sedikit nasib buruk, cedera. Banyak hal yang berantakan.”

Balotelli bahkan berusaha menggali orang-orang yang mempertanyakan profesionalismenya saat dia di Liverpool.

“Mario profesional tidak hanya mendarat di sini di Milan, bahkan di Liverpool perilaku dan gaya hidup saya normal. Selama setahun terakhir tidak pernah ada masalah dengan kehidupan pribadi saya. Saya mungkin telah memasang foto dari restoran di Instagram, tetapi itu tidak berarti saya tidak berlatih meski saya tidak bermain.”

x

Check Also

Griezmann

Tinggal Tunggu Sinyal Griezmann, Chelsea Sudah Siap Gerak

Chelsea dikabarkan berada di posisi terdepan dalam pemburuan Antoine Griezmann dari Barcelona. Situasinya sulit, tapi ...