Home > Berita Bola > Penyerang AS Ini Mengaku Pernah Dipanggil Monyet

Penyerang AS Ini Mengaku Pernah Dipanggil Monyet

London – Penyerang FC Dallas, Fafa Picault mengungkap memori tentang insiden rasisme yang pernah dialaminya saat berada di skuad muda Cagliari dan menceritakan pelecehan yang pernah dilakukan mantan pelatihnya di sana.

Picault, yang kini berusia 29 tahun, lahir di New York dari orang tua imigran asal Haiti dan menjalani kecintaannya terhadap sepakbola sejak usia muda dengan bermain di jalanan kota.

Menginjak usia 16 tahun, ia memutuskan hengkang ke Italia dan mengawali kariernya di tim junior Cagliari, semangat besarnya meninggalkan zona nyaman demi merealisasikan mimpi sebagai pesepakbola profesional.

Walau mengakui bahwa karirnya di Eropa sangat membantu perkembangan kariernya, namun kenangan buruk di luar lapangan mengenai rasisme membuatnya hanya bertahan lima tahun sebelum pulang ke Amerika Serikat (AS).

“Anda memiliki berbagai bentuk rasisme,” kata Picault dalam obrolan langsung di Facebook. “Saya sudah menghadapinya dalam bentuk yang berbeda-beda di ruang ganti dan stadion yang berbeda pula.”

“Ketika saya pindah ke Italia, saya berusia sekitar 16 tahun dan saya masuk ke tim utama pada usia 17 tahun. Saya terbagi antara apa yang dilakukan kebanyakan pemain muda, di mana Anda berlatih bersama tim utama dan kembali bermain bersama tim cadangan.”

“Pelatih kami saat itu, yang ada di tim cadangan, mungkin adalah salah satu orang terburuk yang pernah saya jumpai. . . . Gabung . . . Setiap hari, saya harus berurusan dengannya dan ia pernah memanggil saya monyet atau mengatakan saya harus pulang ke hutan di Afrika, pemain kulit hitam tidak memiliki teknik, hanya bisa berlari cepat, klub mendatangkan saya hanya untuk berlari.”

“Ia tidak mendatangkan saya, presiden klub yang mendatangkan saya, tapi seolah-olah ia yang melakukannya. Ketika kami berlatih, ia selalu mengatakan kata-kata buruk. Jika saya harus menyuruh pemain yang lebih muda untuk melakukan sesuatu, ia akan mengatakan: ‘Tidak, Anda yang harus melakukannya karena Anda berkulit hitam’.”

“Saya terkadang mendapat striker monyet di lemari ruang ganti dan saya mungkin terlibat dalam perkelahian dua kali dalam sepekan.”

“Saya mengelolanya waktu itu dengan kelas-kelas AP di rumah yang saya selesaikan secara online dan saya masih harus tampil di lapangan sepakbola – yang mungkin merupakan bagian yang paling indah.”

“Bagian termudah adalah bermain sepakbola pada waktu itu.” pungkasnya. (Edy – satupedia.com)

x

Check Also

Daftar Pencetak Hattrick Tertua Di 5 Liga Top Eropa

Daftar pemain berikut ini membuktikan bahwa usia hanya angka sebagaimana mereka sanggup menjaringkan tiga gol ...