Home > Berita Bola > Hazard dan Willian Dinilai Sebagai Korban Dari Skema Sarri

Hazard dan Willian Dinilai Sebagai Korban Dari Skema Sarri

London – Gianfranco Zola menilai Eden Hazard dan Willian “menderita” saat masih di bawah arahan Maurizio Sarri di Chelsea.

Zola bahkan mengatakan, skema Sarri telah menyulitkan dua pemain pilar Chelsea itu pada musim lalu.

Sarri digaet oleh The Blues untuk menggeser posisi Antonio Conte di Stamford Bridge setelah musim 2017/18, yang membuat klub finis di urutan kelima di klasemen Liga Primer Inggris.

Sarri mendarat ke Inggris dari Napoli dengan reputasi pelatih berusia 61 tahun itu yang cukup mentereng. Ia sempat mempertahankan hal itu selama beberapa bulan pertamanya di London saat Chelsea meraih catatan kemenangan yang mengesankan.

Namun, hasil justru berkata lain usai periode Natal sehingga Chelsea harus terlempar dari trek juara di awal 2019. Kekalahan 6-0 saat melawan Manchester City menandai titik terendah dalam era kepelatihannya.

Chelsea akhirnya menyegel satu tempat di tiga besar dan akhirnya meraih trofi Liga Europa usai mengalahkan Arsenal di final sesama wakil Inggris. Namun, Sarri memilih untuk kembali ke Italia dan menangani Juventus pada musim panas tahun lalu.

Hazard juga hengkang ke Real Madrid usai menjalani musim gemilang bersama Chelsea dalam soal gol dan assist. Namun, Zola menilai sang winger dan Willian harus berjuang untuk memahami skema Sarri di lapangan latihan.

“Mereka adalah pemain berbakat, seperti Hazard dan Willian, yang tahu bagaimana memenangkan pertandingan mereka sendiri, tapi harus menderita di tipe pelatihan yang kami lakukan, tapi itu perlu untuk yang lain,” ujar Zola, yang menjadi asisten . . . Gabung . . . Sarri pada musim lalu, kepada beIN Sports.

“Saya akan jujur, mereka brilian karena mereka bosan, tapi mereka harus melakukannya dan itulah alasan mengapa ketika semua orang menurun, kami menjadi naik jelang akhir.”

Zola menuturkan, pendekatan permainan Sarri yang membosankan memakan korban untuk seisi grup, namun ia yakin dengan proses mempelajari nilai pengulangan selama karier bermain.

“Pada awalnya, para pemain sangat banyak di belakang semua yang kami katakan, mereka brlian,” ujar Zola lagi.

“Mereka mengikuti semuanya, tapi kemudian ketika pekan-pekan berlalu karena pengulangan dan jumlah pertandingan yang mereka mainkan, para pemain menjadi lelah dan mereka juga bosan.”

“Tapi, membosankan adalah bagian dari pekerjaan kita. Kandang Anda harus bosan tapi ketika Anda bosan, Anda tetap bertahan pada apa yang Anda lakukan dan Anda menjadi lebih baik.”

“Saya ingat ketika saya belajar bermain sepakbola, misalnya menendang bola, saya paling tidak melakukannya 300-400 kali sehari.”

“Ada saat-saat ketika saya lelah tapi saya perlu melakukan berulang kali karena saya ingin menjadi bagian dari diri saya. Ini adalah proses yang harus saya lalui.” pungkasnya. (Edy – satupedia.com)

x

Check Also

Lampard

Lampard Masih Pikirkan Fans The Blues Usai Dipecat Chelsea

London – Frank Lampard dipecat Chelsea dari posisi manajer di pertengahan musim ini. Pemecatan itu ...