Home > Berita Liga Indonesia > Pelatih PSM Akui Level Fisik Pemain Indonesia Masih Jauh di Bawah Eropa

Pelatih PSM Akui Level Fisik Pemain Indonesia Masih Jauh di Bawah Eropa

Makassar – Arsitek tim PSM Makassar, Bojan Hodak menyampaikan pendapat soal kualitas pemain sepakbola Indonesia khususnya Liga 1 sebagai kompetisi kasta tertinggi.

Hodak menduduki kursi pelatih PSM sejak Desember tahun lalu dan Liga 1 edisi 2020 sejatinya menjadi ajang debutnya di kompetisi tanah air.

Namun karirnya sejauh ini bersama Juku Eja baru berjalan selama tiga partai, sebelum kompetisi sepakbola di Indonesia ditangguhkan karena wabah virus corona.

Walau cukup singkat, Hodak telah mengetahui perbedaan kualitas antara pemain Indonesia dan Malaysia, tempat di mana ia sebelumnya melatih.

Sebelum merapat ke PSM, Hodak sempat menangani tim nasional Malaysia U-19 dan juga menjadi juara Malaysia Super League (MSL) bersama Johor Darul Takzim dan Kelantan FA.

“Secara fisik, masih jauh dari [kualitas] liga-liga di Eropa,” katanya dalam sebuah wawancara dengan media ternama Kroasia, Jutarnji.

“Mereka [para pemain Indonesia] kuat berlari, tapi kelelahan setelah 60 menit. Secara teknik dan taktik, Malaysia sedikit lebih baik, klub-klub top mereka bisa bermain di HNL 1 [divisi utama Kroasia]. Sementara klub-klub Indonesia berada di level HNL 2.”

“Para pemain asing yang ada di sana bagus dan mendapat gaji yang layak, mereka . . . . . . semua bisa bermain di liga utama kita,” lanjut Hodak.

“Namun untuk para pemain lokal, tekniknya, seperti yang mereka tunjukkan, sedikit disfungsional. Itu masalah terbesar, sama seperti di seluruh Asia, buruk dalam mengembangkan pemain muda.”

Selain itu, Hodak juga menuturkan pengalamannya dalam menyaksikan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepakbola yang dinilainya unik.

“Orang-orang di sana cinta sepakbola, mereka sedikit gila… 8000 suporter datang menonton sesi latihan pertama saya [bersama PSM],” ujarnya.

“Mereka memakai atribut klub, menyalakan petasan dan menabuh drum saat menghadiri sesi latihan berikutnya.”

“Saya terpaksa harus menyudahi sesi latihan karena tidak peduli seberapa keras saya berteriak, para pemain sama sekali tidak bisa mendengarkan saya. Itu lucu, semakin saya berteriak keras, semakin keras mereka menabuh drum.” pungkasnya. (Edy – satupedia.com)

x

Check Also

Dianggap Kalah WO Lawan Persis Solo, PSG Pati Ajukan Banding

Jakarta – PSG Pati mengajukan banding atas putusan Komisi Displin PSSI yang memutuskan Java Army ...