Home > Berita Bola > Nasib Liga 1 dan Liga 2 Belum Dibahas PSSI

Nasib Liga 1 dan Liga 2 Belum Dibahas PSSI

Nasib kompetisi Liga 1 dan 2 sedang menggantung akibat pandemi COVID-19, tapi PSSI dan PT LIB belum jua duduk bersama untuk membahas. Sebanyak 15 klub Liga 1 atau mayoritas peserta kompetisi baru-baru ini melayangkan tuntutan resmi kepada PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) untuk segera mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa. 

Klub-klub memang sudah lama merasa gelisah dengan nasib kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang masih menggantung sejak dihentikan karena pandemi COVID-19 pada pertengahan Maret lalu. 

Dalam tuntutannya itu klub-klub peserta Liga 1 meminta adanya kejelasan kepastian bisnis kompetisi sampai subsidi klub. Mereka juga meminta PT LIB segera membahas nasib kompetisi yang dihentikan karena pandemi plus membahas konflik internal yang sedang terjadi di PT LIB. 

“Sudah masuk (laporan) ke PSSI dan akan saya laporkan ke ketua umum. Beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) juga sudah mengetahuinya,” kata Plt. Sekjen PSSI, Yunus.

Sepak bola Indonesia memang sedang kembali kacau balau dalam dua bulan terakhir. Dihentikannya kompetisi selama hampir dua bulan membuat klub-klub hilang arah dan terjepit persoalan finansial. Para pemain pun terpaksa harus dipotong gaji hingga 75 persen. 

Masalah ini diperkeruh dengan isu nepotisme yang sedang ramai di PT LIB. Masalah ini bahkan mendapat perhatian khusus dari ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan (Iwan Bule).

PSSI dan PT LIB Kurang Cekatan

Baik klub maupun pecinta sepak bola nasional harus menelan pil pahit setelah kompetisi Liga 1 dan 2 terpaksa harus dihentikan beberapa pekan setelah kick-off perdana. 

PSSI secara resmi menghentikan kompetisi Liga 1 dan 2 dalam batas waktu yang tidak ditentukan mulai dari 22 Maret 2020. Tindakan ini diambil menyusul kondisi darurat yang diterapkan pemerintah terkait krisis COVID-19. 

Tapi sampai hari ini, 11 Mei 2019, baik PSSI, PT LIB, dan klub-klub belum secara resmi ‘duduk bersama’ membahas kejelasan nasib kompetisi. Keengganan PSSI dan PT LIB untuk membahas persoalan secara mendetail dikarenakan masa tanggap darurat di Indonesia masih berjalan sampai 29 Mei.

“Sehingga menurut saya pilihan menunggu status darurat bencana ini sampai akhir Mei adalah pilihan yang paling realistis saat ini,” kata Iwan Bule kepada media.

Akhirnya, bersamaan dengan tuntutan belasan klub peserta, PSSI baru berinisiatif untuk mengadakan Rapat Komite Eksekutif (Exco) untuk membahas nasib liga dan lainnya pada Jumat (08/05/20) lalu. Walaupun terbilang terlambat, tapi langkah ini didukung oleh banyak pihak.

Tapi, apa daya rapat itu harus ditunda seiring dengan pertemuan yang diadakan FIFA dengan PSSI. Pertemuan kembali dijadwal ulang pada esok hari, Selasa (12/05/20) andai tidak ada halangan lain yang menghadang. 

Berserah Kepada Pemerintah Bukanlah Solusi

PSSI dan PT LIB mesti . . . . . . memahami kalau berserah ke pemerintah bukanlah solusi. Walaupun masa tanggap darurat belum diputuskan kelanjutannya sampai 29 Mei, bukan berarti PSSI dan PT LIB tidak bisa bertindak. 

Federasi semestinya sudah jauh-jauh hari membahas segala kemungkinan yang ada. Seperti yang kita ketahui, terhentinya kompetisi bukanlah satu-satunya topik pembicaraan. Ada segudang persoalan turunan yang juga segera membutuhkan pembahasan serius di level federasi dan operator liga. 

Mulai dari kontrak pemain, pilihan kompetisi pengganti, sampai masalah subsidi klub. Saat ini banyak pemain baik lokal maupun asing di Indonesia yang sedang terancam kontraknya. Hal ini jadi perhatian para pemain baik asing maupun lokal.

Tentu mereka tidak ingin terhentinya kompetisi juga berdampak pada pemutusan kontrak mereka yang rata-rata hanya jangka pendek. Klub-klub yang terjepit persoalan finansial juga menuntut agar dibayarkan subsidi yang sudah dijanjikan. Bagaimana PSSI mengatur hal ini?

Dan yang paling terpenting adalah segala opsi yang bisa diambil terkait nasib liga setelah pandemi COVID-19 berakhir. Apakah kalau berlanjut nanti pertandingan diadakan dengan penonton atau tanpa penonton? Semua ini belum dibicarakan secara seksama di level federasi. 

Kalau belajar kepada negara seperti Jerman, Italia, dan bahkan negara di Asia Timur, federasi sepak bola setempat secara konsisten terus menggodok segala kemungkinan yang ada terkait nasib kompetisi.

Opsi-opsi yang diambil jauh-jauh hari di level federasi membuat klub-klub, pemain, sponsor, dan stakeholder lainnya mudah dalam menyusun rencana. 

Saat waktunya tiba, maka mereka tidak perlu ‘grasak grusuk’ mengadakan pertemuan karena semua bisa dieksekusi dengan sesegera mungkin. Maka tidak heran Liga Korea Selatan sudah bisa kita saksikan di layar kaca tidak lama setelah negara mereka bebas dari COVID-19. 

Selain itu, PSSI dan PT LIB mesti memahami dengan seksama timeline waktu persiapan klub-klub sepak bola setelah jeda panjang. Klub-klub idealnya tidak bisa langsung bertanding seminggu setelah liga dilanjutkan. 

Pelatih setidaknya perlu mempersiapkan pola latihan khusus untuk mengembalikan fisik pemain yang kendur. Tahap ini saja membutuhkan waktu tiga minggu sampai satu bulan.  

Sungguh sebuah hal yang kurang elok saat di tengah krisis sepak bola nasional yang membutuhkan penanganan segera, baik PT LIB maupun PSSI malah disibukkan dengan polemik penunjukkan Pradana Aditya Wicaksana, sebagai General Manager dan para pengganti Ratu Tisha. 

x

Check Also

Tabarez Akhirnya Dipecat Sebagai Pelatih Timnas Uruguay Usai 15 Tahun Masa Baktinya

Jakarta – Pelatih Timnas Uruguay akhirnya mengakhiri masa kepelatihannya yang sudah berjalan selama 15 tahun.Tabarez ...