Home > Berita Bola > Gelandang Leicester Ini Pernah Jadi Penjual Buah

Gelandang Leicester Ini Pernah Jadi Penjual Buah

London – Wilfred Ndidi mengingat masa kecilnya saat masih menjadi penjual buah, yang menghadirkan tantangan dalam hidupnya sebelum merealisasikan mimpi menjadi pemain sepakbola profesional.

Lahir dan besar di Lagos, Ndidi, sebagai anak tentara, mengalami periode sulit dalam membantu keluarganya untuk bertahan hidup sembari memenuhi keinginan masa kecilnya.

Walau dicoret dari skuad Nigeria U-17, Ndidi pada akhirnya mampu membuktikan diri dan tampil bersama Nigeria di Piala Dunia U-20 pada 2013 di Turki, sebelum kemudian memberikan kesempatan baginya membela tim senior dan hingga kini menjadi pemain kunci.

Dalam perbincangan dengan siniar Out of Home, sosok berusia 23 tahun itu mengisahkan bagaimana dirinya membantu ibunya berjualan buah dan makanan sebagai bagian dari usahanya menyambung kehidupan keluarga.

“Meski pun kami mengalami pasang surut dan mencoba untuk melunasi beberapa tagihan, saya selalu ada untuk ibu saya,” kata Ndidi. “Ibu saya adalah penjual makanan dan saya membantu dengan menjajakan dagangannya. Saya tidak menyesali itu karena saya tumbuh dewasa dengan semua kesulitan untuk bertahan hidup. Tidak ada buah yang tidak saya jual.”

“Saya adalah bocah yang ada di pasar dan dikenal sebagai penjual hasil tanah, karena itu yang ada setiap musim. Sebut saja saya menjual paprika, tomat dan alpukat. Kami pada dasarnya menjual buah-buahan dengan musim yang berbeda. Semua ini dilakukan demi bertahan hidup di dalam dan luar zona . . . . . . militer.”

Semangat Ndidi untuk bisa mencari nafkah lewat sepakbola mendapat halangan dari ayahnya, yang lebih menginginkannya fokus pada pendidikan di sekolah. Hanya saja, masalah keuangan memaksanya tidak bisa melanjutkan pendidikan.

Pada beberapa kesempatan, ia sering mendapat hukuman dari sang ayah karena bermain sepakbola. Takdir namun berkata lain dan menuntunnya ke dunia sepakbola, karena mungkin tidak akan terwujud tanpa dirinya yang meninggalkan Lagos.

“Sulit, karena ayah ingin saya bersekolah tapi tidak punya uang,” lanjutnya.

“Yang membuat lebih mudah adalah ketika saya pindah dari Lagos. Saya mendapat kebebasan karena ketika ada ayah, jika saya pergi berlatih dan ia pulang sebelum saya, maka saya harus menjelaskan dari mana saya pergi. Ketika saya mengatakan dari bermain sepakbola, saya dimarahi.”

“Ada suatu ketika saya dicambuk dengan kulit sapi ‘Koboko’ dan itu membekas seperti tato di badan saya. Saya sampai tidak bisa memakai baju, karena terasa lengket dan menyakitkan. Itu semacam hukuman disiplin militer.” pungkasnya. (Edy – satupedia.com)

x

Check Also

Lampard

Lampard Ternyata Juga Sempat Berminat Besut Aston Villa

London – Eks manajer Chelsea, Frank Lampard dikabarkan sempat diwawancarai untuk mengisi posisi pelatih Aston ...