Home > Berita Liga Spanyol > Barcelona > Pro Kontra Soal Pemotongan Gaji di Tim Barcelona

Pro Kontra Soal Pemotongan Gaji di Tim Barcelona

Saat berpetualang sebagai pelatih Barcelona, Bobby Robson secara reguler bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya membutuhkan ini?”.

Juru taktik Inggris itu secara naif menganggap pekerjaannya adalah ‘mencoba memenangkan pertandingan sebanyak mungkin, bukan untuk menghadapi pertarungan politik’. Tapi itulah Barcelona, dulu dan sekarang sama saja: duel besar politik.

“Sepakbola di sini tentang power, tentang pentingnya kemenangan,” kata Robson pada penulis Jimmy Burns.

“Ini tentang kota dan Catalonia. Pasukan di sini tidak boleh kalah.”

Pasukan yang dimaksud Robson adalah, media, alat penting untuk mempengaruhi opini publik. Mudahnya, siapapun yang menguasai media, dia mengendalikan klub. Dengan begitu persepsi adalah kunci.

Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu tahu betul soal ini. Begitu juga Lionel Messi. Itulah mengapa dua figur paling penting di Camp Nou itu sering berada di kubu berbeda dan memperebutkan kendali tentang cerita pemotongan gaji pemain Barca.

Awal pekan ini diumumkan Messi dan rekan setimnya sepakat pemangkasan gaji sampai 70 persen demi mengurangi kerugian klub di tengah-tengah krisis Covid-19.

Sebagai tambahan, sang kapten mengungkap para pemain siap memberikan kontribusi sehinga pekerja klub lainnya bisa mendapat gaji 100 persen sampai situasi membaik.

Tentu saja itu adalah sikap jempolan dan tidak bisa dianggap remeh. Tapi kita juga tidak bisa lupa kalau pengumuman yang diungkap oleh Messsi itu mengarah pada cerita sebelumnya yang mengklaim para pemain enggan menerima pemotongan gaji.

Legenda hidup sepakbola Argentina ini bukan hanya meluruskan kabar tentang gaji, lebih signifikan lagi dia baru saja membantah klaim sudah mengabaikan Camp Nou.

“Bukan hal mengejutkan bagi kami kalau ada pihak di internal klub yang mencoba menyorot dan memberi tekanan kepada kami untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya memang ingin kami lakukan,” tulis Messi.

Ini adalah perkembangan penting terkait hubungan antara kamar ganti dan jajaran direksi, yang terus menurun semenjak Neymar pergi ke Paris Saint-Germain pada 2017.

Kegagalan pada musim panas lalu untuk membawa pulang penyerang asal Brasil itu sudah meningkatkan tensi antara pemain paling berpengaruh dan presiden Barca.

Klub tidak memiliki dana yang cukup untuk mewujudkan transfer setelah mereka mengeluarkan €120 juta untuk menggaet Antoine Griezmann. Mereka yang berada di kamar ganti curiga Baromeu memang tidak berniat membawa Neymar, dia hanya ingin terlihat sedang berusaha melakukannya.

Spekulasi soal keributan di balik layar Barca semakin meruncing saat pada Februari Cadena SER mengklaim Barca sudah menyewa perusahaan public relations untuk ‘melindungi’ reputasi Bartomeu melalui media sosial sekaligus ‘meruntuhkan’ citra musuh-musuhnya, termasuk mantan pemain, calon presiden sampai Messi.

Bartomeu mengakui Barca sudah menunjuk I3 Ventures yang disebut di Cadena SER tapi . . . Gabung . . . dia menolak tudingan perusahaan itu disewa untuk menjatuhkan pihak lain.

Tidak lama kemudian, hubungan dengan I3 Ventures dihentikan tapi langkah ini sama sekali tidak menurunkan spekulasi atau tensi. Messi juga bereaksi dengan hati-hati terhadap isu itu.

“Aneh hal seperti ini terjadi, tapi kami harus menunggu untuk mengetahui kebenarannya,” katanya di Mundo Deportivo.

Menariknya, Messi tidak setenang itu dalam menyikapi kisruh pemotongan gaji. Dia tidak tinggal diam begitu saja. Dengan mengaku tidak terkejut melihat pemberitaan media, dia secara jelas mengungkap ada figur-figur klub yang secara sengaja mencoba mendiskreditkan pemain.

Kekecewaan ini diungkapkan secara terbuka kepada publik. Bartomeu kemudian dengan cepat memberi dukungan terhadap sikap Messi dengan mengatakan sang kapten dan rekan setimnya selalu berniat untuk mendapat pemotongan gaji demi klub.

“Dari hari pertama dia mengatakan gajinya harus dipangkas,” kata sang presiden pada Sport.

“Mungkin para pemain kecewa dengan hal-hal yang sudah dikatakan orang-orang di dalam dan luar klub, yang tidak memiliki informasi lengkap.”

“Negosiasi hanya dilukan oleh Oscar Grau dan saya, dan kami tidak mengatakan apapun.”

saat ditanya Catalunya Radio siapa yang bertanggung jawab atas kebocoran itu, Bartomeu menjawab singkat, “Saya tidak tahu.” Tapi sekarang kita semua tahu, saat sederet kejadian seharusnya bisa dirangkai untuk menciptakan cerita indah tentang bagaimana solidnya klub, tapi yang terjadi adalah perpecahan di level inti yang semakin nyata terlihat.

Musim ini Gerard Pique pernah menyentil jadwal pramusim Barca, Sergio Busquets mempertanyakan kebijakan transfer klub. Arturo Vidal mengancam tindakan legal terkait bonus yang tidak dibayarkan dan Messi berseteru dengan direktur teknik Eric Abidal yang menuding pemain tidak bekerja maksimal di bawah arahan pelatih Ernesto Valverde.

Menjadi tidak mengejutkan, di pertandingan kandang pertama setelah skandal perusahaan PR naik ke permukaan, loyalis Blaugrana berteriak dengan lantang agar Bartomeu mundur dari jabatannya.

Tekanan terhadap sang presiden semakin meningkat bahkan sudah memunculkan permintaan pemilihan 2021 agar dimajukan pada musim panas tahun ini.

Bartomeu memang tidak bisa menjabat untuk periode ketiga kali tapi dia pernah mengutarakan keinginan bekerja sampai masa baktinya memang habis. Dari dulu pertempuran politik adalah bumbu dan ciri khas Barcelona. Sekarang Bartomeu dan Messi sedang bertarung untuk mengendalikan pasukan yang tidak boleh kalah.

x

Check Also

Gol Kylian Mbappe Di Final UEFA Nation League 2021, Menyebabkan Peraturan Offside Direfisi

Jakarta – Kylian Mbappe menjadi pahlawan kemenangan Prancis saat mengalahkan Spanyol dengan skor 2-1 di ...