Home > Berita Bola > Ibrahimovic Merasa Kemampuannya Terasah Saat Perkuat Juventus

Ibrahimovic Merasa Kemampuannya Terasah Saat Perkuat Juventus

Turin – Bomber LA Galaxy, Zlatan Ibrahimovic meyebut bahwa Juventus telah menjadikannya seperti sebuah mesin yang membuat penampilannya terus berkembang dalam perjalanan karier.

Ibrahimovic Merasa Kemampuannya Terasah Saat Perkuat Juventus

Pemain veteran asal Swedia itu diboyong oleh Si Nyonya Tua dari Ajax Amsterdam pada 2004 lalu meski awalnya ia lebih dikenal sebagai sosok yang suka pamer kebolehan dibanding ketajamannya dalam mengoyak jala lawan.

Ibrahimovic kemudian mengatakan reputasinya sebagai striker berubah lewat arahan pelatih Fabio Capello yang saat itu menangani raksasa Serie A Italia tersebut.

“Pada mulanya, di mana saya tumbuh semuanya bukan soal mencetak gol, melainkan soal siapa yang punya kemampuan, teknik terbaik dan saya bawa itu ke mana pun saya pergi,” ungkap Ibrahimovic kepada BBC Sport (23/11/2018).

“Lalu itu berubah ketika saya datang ke Juventus. Saya di Ajax bermain lebih cantik, saya mendapatkan tekanan juga di sana tapi segalanya adalah soal mencetak gol ketika di Italia, bersama dengan Capello.”

“Segalanya terasa baru bagi saya. Juventus seperti, ‘Wow, klub besar, banyak pemain besar, pelatih besar, sejarah besar. Sepakbola Italia, Serie A. Wow’.”

“Kala itu sepakbola Italia berada paling atas, dan saya tahu untuk bertahan di sana saya butuh bekerja keras. Namun saya merasa saya berada di sana untuk sebuah alasan, saya ada karena saya bagus.”

“Dari hari pertama berlatih saya mendengar Capello berteriak ‘Ibra!’ – itu merupakan asal mula . . . Gabung . . . nama panggilan saya. [Luciano] Moggi] tak tahu bagaimana cara menyebut nama saya jadi hanya ‘Ibra..ee.. Ibra!’. Kemudian semuanya mulai memanggil saya Ibra,” kenangnya.

“Dan Capello menunjuk asistennya, Italo [Galbiati]. Ia telah menangani para pemain dari akademi dan tim muda, dan saya berlatih bersama mereka. Mereka memberikan umpan-umpan dan saya mencetak gol, setiap hari selama 30 menit.”

“Terkadang saya hanya ingin pulang ke rumah karena saya merasa lelah dan tak ingin lagi menendang bola, saya tak ingin lagi melihat gawang atau kiper. Saya mencoba untuk pulang lebih awal tapi mendengar ‘Ibra!’ dan seketika saya langsung tahu maksudnya. Saya kembali menendang dan menendang, tendangan baik mau pun buruk.”

“Pada akhirnya saya menjadi sebuah mesin, di depan gawang dan mencetak gol, terumata di Italia di mana striker adalah posisi yang paling sulit karena secara taktik mereka sangat bagus dan saat itu mereka punya banyak bek kelas dunia.” pungkasnya. (Edy – satupedia.com)

x

Check Also

Prediksi Lazio vs Marseille,UEFA Legue 2021/22, 21 Oktober 2021

Jakarta – Pada matchday 3 Grup E UEFA  League atau Liga Europa 2021/22, akan mempertemukan ...